KISAH NABI YA’QUB AS
Nabi YA'QUB adalah putra Ishaq bin Ibrahim. Ibunya bernama
Rafiqah. Ia lahir di Kan'aniyyin (Kanaan, Palestina). Namun sebagian riwayat
menyebutkan bahwa ia dilahirkan di negeri Nabulis. Suatu hari Allah Swt.
memberinya wahyu (Q.4:163) dan mengutusnya sebagai nabi (Q.19:49). Ia lalu
menyerukan agar penduduk Kan'aniyyin menyembah Allah Swt. Pada usia 147 tahun
ia wafat dan dimakamkan di Mesir karena, ketika sudah berusia tua, ia mengikuti
putranya, Nabi Yusuf a.s., yang menjadi pembesar Mesir. Riwayat lain
menyebutkan bahwa Nabi Ya'qub dimakamkan di Hebron di sisi makam ayahnya, Nabi
Ishaq a.s. Dalam Al-Qur'an, kisah Nabi Ya'qub selalu disebutkan bersamaan dengan
nabi-nabi lain, misalnya Nabi Ibrahim a.s. (kakeknya), Nabi Ishaq a.s.
(bapaknya) dan Nabi Yusuf a.s. (putranya).
PEJALAN MALAM, Nabi Ya'qub a.s. bersaudara kandung
dengan 'Aish, tapi hubungan mereka renggang. 'Aish dengki dan iri melihat
Ya'qub dimanja dan disayang oleh ibunya. Hubungan mereka semakin renggang,
ketika Ya'qub memperoleh berkah dan doa Nabi Ishaq a.s., ayahnya. Akhirnya,
karena merasa kurang aman hidup bersama saudaranya, Ya'qub meminta nasihat
kepada ayahnya. Nabi Ishaq a.s. menasihati agar ia menemui pamannya Laban bin
Batwil di Faddan Aram.
WAHYU ALLAH, Dalam perjalanan menuju rumah
pamannya di Faddan Aram, Ya'qub tertidur sejenak melepas lelah. Pada saat
itulah ia menerima wahyu dari Allah Swt. melalui mimpinya. Dalam mimpinya itu
diwahyukan bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah, kecuali Allah; dan Allah
mewariskan Baitulmakdis, kehidupan yang bahagia, dan kerajaan besar untuk
Ya'qub serta keturunannya.
EMPAT ISTRI, Sesuai dengan keinginan ayahnya,
Ya'qub bermaksud menikahi putri bungsu pamannya Laban. Ia ingin menikah dengan
putri bungsu yang bernama Rahil. Pamannya setuju, dengan syarat Ya'qub harus
tinggal di kampungnya selama 7 tahun dan menikahi kakak perempuan Rahil yang
bernama Laiya--biasa dipanggil Layyan. Adat di daerah itu melarang seorang adik
melangkahi kakaknya menikah lebih dahulu. Akhirnya, pamannya menikahkan kedua
anak gadisnya dengan Ya'qub (ketika itu hukum memperbolehkan seseorang menikahi
dua gadis sekandung). Laban juga menghadiahkan dua hamba sahayanya kepada
masing-masing putrinya, yaitu Zulfa untuk Layyan dan Balhan untuk Rahil. Kedua
hamba sahaya itu pun akhirnya diberikan kepada Ya'qub untuk diperistri,
sehingga istrinya berjumlah empat orang.
KETURUNAN, Dari keempat istrinya, Ya'qub
mempunyai dua belas orang anak. Layyan melahirkan enam orang anak, yaitu
Raubin, Syam'un, Lewi (salah satu keturunannya adalah Nabi Musa), Yahuda,
Yasakir, dan Zabulon. Rahil melahirkan dua orang anak, yaitu Yusuf dan
Bunyamin. Kemudian Zulfa melahirkan dua orang anak, yaitu Kan dan Asyar. Begitu
juga Balhan melahirkan dua orang anak, yaitu Daan dan Naftali.
KISAH
NABI YUSUF AS
Nabi Yusuf adalah putera ke tujuh daripada dua belas
putera-puteri Nabi Ya’qub. Ia dengan adiknya yang bernama Benyamin adalah
beribukan Rahil, saudara sepupu Nabi Ya’qub. Ia dikurniakan Allah rupa yang
bagus, paras tampan dan tubuh yang tegap yang menjadikan idaman setiap wanita
dan kenangan gadis-gadis remaja. Ia adalah anak yang dimanjakan oleh ayahnya,
lebih disayang dan dicintai dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain,
terutamanya setelah ditinggalkan iaitu wafatnya ibu kandungnya Rahil semasa ia
masih berusia dua belas tahun.
Perlakuan yang diskriminatif dari Nabi Ya’qub terhadap
anak-anaknya telah menimbulkan rasa iri-hati dan dengki di antara
saudara-saudara Yusuf yang lain, yang merasakan bahawa mereka dianak-tirikan
oleh ayahnya yang tidak adil sesama anak, memanjakan Yusuf lebih daripada yang
lain.
Rasa jengkel mereka terhadap kepada ayahnya dan iri-hati terhadap Yusuf membangkitkan rasa setia kawan antara saudara-saudara Yusuf, persatuan dan rasa persaudaraan yang akrab di antara mereka.
Rasa jengkel mereka terhadap kepada ayahnya dan iri-hati terhadap Yusuf membangkitkan rasa setia kawan antara saudara-saudara Yusuf, persatuan dan rasa persaudaraan yang akrab di antara mereka.
Saudara-saudara Yusuf
mengadakan pertemuan, Dalam pertemuan rahsia
yang mrk adakan untuk merundingkan nasib yang mrk alami dan mengatur aksi yang
harus mrk lakukan bagi menyedarkan ayahnya, menuntut perlakuan yang adil dan
saksama, berkata salah seorang drp mrk:” Tidakkah kamu merasakan bahawa perlakuan
terhadap kita sebagai anak-anaknya tidak adil dan berat sebelah? Ia memanjakan
Yusuf dan menyintai serta menyayangi lebih daripada kita, seolah-olah Yusuf dan
Benyamin sahajalah anak-anak kandungnya dan kita anak-anak tirinya , padahal
kita adalah lebih tua dan lebih cekap daripada mereka berdua serta kitalah yang
selalu mendampingi ayah,mengurus segala keperluannya dan keperluan
rumahtanggannya. Kita merasa hairan mengapa hanya Yusuf dan Benyamin sahaja
yang menjadi keistimewaan disisi ayah. Apakah ibunya lebih dekat kepada hati
ayah berbanding dengan ibu kita? Jika memang itu alasannya ,maka apakah salah
kita? Bahawa kita lahir daripada ibu yang mendapat tempat kedua di hati ayah
ataukah paras Yusuf yang lebih tampan dan lebih cekap drp paras dan wajah kita
yang memang sudah demikian diciptakan oleh Tuhan dan sesekali bukan kehendak
atau hasil usaha kita? Kita amat sesalkan atas perlakuan dan tindakan ayah yang
sesal dan keliru ini serta harus melakukan sesuatu untuk mengakhiri keadaan
yang pincang serta menjengkelkan hati kami semua.”
Seorang saudara lain berkata menyambung:” Soal cinta atau
benci simpati atau antipati adalah soal hati yang tumbuh laksana jari-jari
kita, tidak dapat ditanyakan mengapa yang satu lebih rebdah dari yang lain dan
mengapa ibu jari lebih besar dari jari kelingking. Yang kita sesalkan ialah
bahwa ayah kita tidak dpt mengawal rasa cintanya yang berlebih-lebihan kepada
Yusuf dan Benyamin sehingga menyebabkannya berlaku tidak adil terhadap kami
semua selaku sesama anak kandungnya. Keadaan yang pincang dalam hubungan kita
dengan ayah tidak akan hilang, jika penyebab utamanya tidak kita hilangkan. Dan
sebagaimana kamu ketahui bahwa penyebab utamanya dari keadaan yang menjengkel
hati ini ialah adanya Yusuf di tengah-tengah kita. Dia adalah penghalang bagi
kita untuk dpt menerobos ke dalam lubuk hati ayah kita dan dia merupakan
dinding tebal yang memisahkan kita dari ayah kita yang sangat kita cintai. Maka
jalan satu-satunya untuk mengakhiri kerisauan kita ini ialah dengan melenyapkannya
dari tengah-tengah kita dan melemparkannya jauh-jauh dari pergaulan ayah dan
keluarga kita. Kita harus membunuh dengan tangan kita sendiri atau
mengasingkannya di suatu tempat di mana terdpt binatang-binatang buas yang akan
melahapnya sebagai mangsa yang empuk dan lazat. Dan kita tidak perlu meragukan
lagi bahwa bila Yusuf sudah lenyap dari mata dan pergaulan ayah , ia akan
kembali menyintai dan menyayangi kita sebagai anak-anaknya yang patut mendapat
perlakuan adil dan saksama dari ayah dan suasana rumahtangga akan kembali
menjadi rukun, tenang dan damai, tiada sesuatu yang merisaukan hati dan
menyesakkan dada.”
Berkata Yahudza, putera keempat dari Nabi Ya’qub dan yang
paling cekap dan bijaksana di antara sesama saudaranya:” Kita semuanya adalah
putera-putera Ya’qub pesuruh Allah dan anak dari Nabi Ibrahim, pesuruh dan
kekasih Allah. Kami semua adalah orang-orang yang beragama dan berakal waras.
Membunuh adalah sesuatu perbuatan yang dilarang oleh agama dan tidak diterima
oleh akal yang sihat, apa lagi yang kami bunuh itu atau serahkan jiwanya kepada
binatang buas itu adalah saudara kita sendiri , sekandung, sedarah , sedaging
yang tidak berdosa dan tidak pula pernah melakukan hal-hal yang menyakitkan
hati atau menyentuh perasaan. Dan bahwa ia lebih dicntai dan disayangi oleh
ayah, itu adalah suatu yang berada di luar kekuasaannya dan sesekali tidak dpt
ditimpakan dosanya kepadanya. Maka menurut fikiran saya kata Yahudza
melanjutkan bahasnya ialah dengan jalan yang terbaik untuk melenyapkan Yusuf
ialah melemparkannya ke dalam sebuah perigi yang kering yang terletak di sebuah
persimpangan jalan tempat kafilah-kafilah dan para musafir berhenti
beristirehat memberi makan dan minum kepada binatang-binatang kenderaannya.
Dengan cara demikian terdpt kemungkinan bahwa salah seorang daripada musafir
itu menemukan Yusuf, mengangkatnya dari dalam perigi dan membawanya jauh-jauh
sebagai anak pungut atau sebagai hamba sahaya yang akan diperjual-belikan
.Dengan cara aku kemukakan ini ,kami telah dapat mencapai tujuan kami tanpa
melakukan pembunuhan dan merenggut nyawa adik kami yang tidak berdosa.”
Fikiran dan cadangan yang dikemuka oleh Yahudza itu mendapat
sambutan baik dan disetujui bulat oleh saudara-saudaranya yang lain dan akan
melaksanakannya pada waktu dan kesempatan yang tepat. Pertemuan secara rahsia
itu bersurai dengan janji dari masing-masing saudara hadir, akan menutup mulut
dan merahsiakan rancangan jahat ini seketat-ketatnya agar tidak bocor dan tidak
didengar oleh ayah mereka sebelum pelaksanaannya.
Nabi Yusuf bermimpi,
Pada malam di mana para saudaranya mengadakan pertemuan sulit yang mana untuk
merancangkan muslihat dan rancangan jahat terhadap diri adiknya yang ketika itu
Nabi Yusuf sedang tidur nyenyak , mengawang di alam mimpi yang sedap dan
mengasyikkan ,tidak mengetahui apa yang oleh takdir di rencanakan atas dirinya
dan tidak terbayang olehnya bahwa penderitaan yang akan dialaminya adalah
akibat dari perbuatan saudara-saudara kandungnya sendiri, yang diilhamkan oleh
sifat-sifat cemburu, iri hati dan dengki.
Pada malam yang nahas itu Nabi Yusuf melihat dalam mimpinya
seakan-akan sebelas bintang, matahari dan bulan yang berada di langit turun dan
sujud di depannya. Terburu-buru setelah bangun dari tidurnya, ia datang
menghampiri ayahnya , menceritakan kepadanya apa yang ia lihat dan alami dalam
mimpi.
Tanda gembira segera tampak pada wajah Ya’qub yang berseri-seri ketika mendengar cerita mimpi Yusuf, puteranya. Ia berkata kepada puteranya:” Wahai anakku! Mimpimu adalah mimpi yang berisi dan bukan mimpi yang kosong. Mimpimu memberikan tanda yang membenarkan firasatku pada dirimu, bahwa engkau dikurniakan oleh Allah kemuliaan ,ilmu dan kenikmatan hidup yang mewah.Mimpimu adalah suatu berita gembira dari Allah kepadamu bahwa hari depanmu adalah hari depan yang cerah penuh kebahagiaan, kebesaran dan kenikmatan yang berlimpah-limpah.Akan tetapi engkau harus berhati-hati, wahai anakku ,janganlah engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudaramu yang aku tahu mereka tidak menaruh cinta kasih kepadamu, bahkan mereka mengiri kepadamu karena kedudukkan yang aku berikan kepadamu dan kepada adikmu Benyamin. Mrk selalu berbisik-bisik jika membicarakan halmu dan selalu menyindir-nyindir dalam percakapan mrk tentang kamu berdua. Aku khuatir, kalau engkau ceritakan kepada mrk kisah mimpimu akan makin meluaplah rasa dengki dan iri-hati mereka terhadapmu dan bahkan tidak mungkin bahwa mereka akan merancang perbuatan jahat terhadapmu yang akan membinasakan engkau. Dan dalam keadaan demikian syaitan tidak akan tinggal diam, tetapi akan makin mambakar semangat jahat mereka dan mengorbankan rasa dengki dan iri hati yang bersemayam dalam dada mereka. Maka berhati-hatilah, hai anakku, jangan sampai cerita mimpimu ini bocor dan didengar oleh mereka.”
Tanda gembira segera tampak pada wajah Ya’qub yang berseri-seri ketika mendengar cerita mimpi Yusuf, puteranya. Ia berkata kepada puteranya:” Wahai anakku! Mimpimu adalah mimpi yang berisi dan bukan mimpi yang kosong. Mimpimu memberikan tanda yang membenarkan firasatku pada dirimu, bahwa engkau dikurniakan oleh Allah kemuliaan ,ilmu dan kenikmatan hidup yang mewah.Mimpimu adalah suatu berita gembira dari Allah kepadamu bahwa hari depanmu adalah hari depan yang cerah penuh kebahagiaan, kebesaran dan kenikmatan yang berlimpah-limpah.Akan tetapi engkau harus berhati-hati, wahai anakku ,janganlah engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudaramu yang aku tahu mereka tidak menaruh cinta kasih kepadamu, bahkan mereka mengiri kepadamu karena kedudukkan yang aku berikan kepadamu dan kepada adikmu Benyamin. Mrk selalu berbisik-bisik jika membicarakan halmu dan selalu menyindir-nyindir dalam percakapan mrk tentang kamu berdua. Aku khuatir, kalau engkau ceritakan kepada mrk kisah mimpimu akan makin meluaplah rasa dengki dan iri-hati mereka terhadapmu dan bahkan tidak mungkin bahwa mereka akan merancang perbuatan jahat terhadapmu yang akan membinasakan engkau. Dan dalam keadaan demikian syaitan tidak akan tinggal diam, tetapi akan makin mambakar semangat jahat mereka dan mengorbankan rasa dengki dan iri hati yang bersemayam dalam dada mereka. Maka berhati-hatilah, hai anakku, jangan sampai cerita mimpimu ini bocor dan didengar oleh mereka.”
Isi cerita tersebut di atas terdapat dalam Al_Quran ,dalam
surah “Yusuf” ayat 4 sehingga ayat 10 yang berbunyi sebagai berikut:
Maksudnya:” {Ingatlah} ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku”. 5. Ayahnya berkata: “Hai anakku ,jgnlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudar-saudaramu, maka mrk membuat muslihat {utk membinasakanmu} .Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” 6. Dan demikianlah Tuhanmu memilih kamu {utk menjadi Nabi} dan diajarkannya kepada kamu sebahagian dari takdir mimpi-mimpi dan disempurnakannya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatnya kepada dua orang bapamu sebelum itu, {iaitu} Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 7. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada {kisah} Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang yang bertanya. 8. {Iaitu} ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya {Benyamin} lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita {ini} adalah satu golongan {yang kuat} .Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.” 9. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah {yang tidak dikenal} supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” 10. Seorang daripada mrk berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah ia ke dalam perigi, supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir jika kamu hendak berbuat.” { Yusuf :4 ~ 10 }
Maksudnya:” {Ingatlah} ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku”. 5. Ayahnya berkata: “Hai anakku ,jgnlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudar-saudaramu, maka mrk membuat muslihat {utk membinasakanmu} .Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” 6. Dan demikianlah Tuhanmu memilih kamu {utk menjadi Nabi} dan diajarkannya kepada kamu sebahagian dari takdir mimpi-mimpi dan disempurnakannya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatnya kepada dua orang bapamu sebelum itu, {iaitu} Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 7. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada {kisah} Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang yang bertanya. 8. {Iaitu} ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya {Benyamin} lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita {ini} adalah satu golongan {yang kuat} .Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.” 9. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah {yang tidak dikenal} supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” 10. Seorang daripada mrk berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah ia ke dalam perigi, supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir jika kamu hendak berbuat.” { Yusuf :4 ~ 10 }
Yusuf dimasukan kedalam
perigi, Pada esok harinya setelah semalam suntuk saudara kandung
Yusuf bertemu berundingkan siasat dan merancangkan penyingkiran adiknya yang
merupakan saingan yang berat dalam merebut hati si ayah, datanglah mereka
menghadapi Nabi Ya’qub ayahnya meminta izin membawa Yusuf berekreasi bersama
mereka di luar kota. Berkata juru cakap mrk kepada si ayah: ” Wahai ayah yang
kami cintai! Kami berhajat berekreasi dan berkelah di luar kota beramai-ramai
dan ingin sekali bahawa adik kami Yusuf turut serta dan tidak ketinggalan ,
menikmati udara yang cerah di bawah langit biru yang bersih. Kami akan bawa
bekal makanan dan minuman yang cukup untuk santapan kami selama sehari berada di
luar kota untuk bersuka ria dan bersenang-senang ,menghibur hati yang lara dan
melapangkan dada yang sesak, seraya mempertebal rasa persaudaraan dan semangat
kerukunan di antara sesama saudara.”
Berkata Ya’qub kepada putera-puteranya: ” Sesungguhnya akan
sangat merungsingkan fikiranku bila Yusuf berada jauh dari jangkauan mataku
,apalagi akan turut serta bersamamu keluar kota ,di lapangan terbuka, yang
menurut pendengaranku banyak binatang buas seperti serigala yang banyak
berkeliaran di sana .Aku khuatir bahwa kamu akan lengah menjaganya ,karena
kesibukan kamu bermain-main sendiri sehinggakan menjadikannya mangsa bagi
binatang-binatang buas itu. Alangkah sedihnya aku bila hal itu terjadi. Kamu
mengetahui betapa sayangnya aku kepada Yusuf yang telah ditingglkan oleh
ibunya.”
Putera-puteranya menjawab:” Wahai ayah kami! Maskan masuk di
akal, bahwa Yusuf akan diterkam oleh serigala atau lain binatang buas di depan
mata kami sekumpulan ini? Padahal tidak ada di antara kami yang bertubuh lemah
atau berhati penakut. Kami sanggup menolak segala gangguan atau serangan dari
mana pun datangnya, apakah itu binatang buas atau makhluk lain. Kami cukup kuat
serta berani dan kami menjaga Yusuf sebaik-baiknya, tidak akan melepaskannya
dari pandangan kami walau sekejap pun. Kami akan mempertaruhkan jiwa raga kami
semua untuk keselamatannya dan di manakah kami akan menaruh wajah kami bila
hal-hal yang mengecewakan ayah mengenai diri Yusuf.”
Akhirnya Nabi yusuf tidak ada alasan untuk menolak
permintaan anak-anaknya membawa Yusuf berekreasi melepaskan Yusuf di tangan
saudara-saudaranya yang diketahui mrk tidak menyukainya dan tidak menaruh kasih
sayang kepadanya. Ia berkat kepada anak anaknya:” Baiklah jika kamu memang
sanggup bertanggungjawab atas keamanan dan keselamtannya sesuai dengan
kata-kata kamu ucapkan itu, maka aku izinkan Yusuf menyertaimu, semoga Allah
melindunginya bersama kamu sekalian.”
Pada esok harinya berangkatlah rombongan putera-putera
Ya’qub kecuali Benyamin, menuju ke tempat rekreasi atau yang sebenarnya menuju
tempat di mana menurut rancangan, Yusuf akan ditinggalkan. Setiba mrk disekitar
telaga yang menjadi tujuan , Yusuf segera ditanggalkan pakaiannya dan
dicampakkannya di dalam telaga itu tanpa menghiraukan jeritan tangisnya yang
sedikit pun tidak mengubah hati abang-abangnya yang sudah kehilangan rasa cinta
kepada adik yang tidak berdosa itu. Hati mereka menjadi lega dan dada mrk
menjadi lapang karena rancangan busuknya telah berhasil dilaksanakan dan dengan
demikian akan terbukalah Hati Ya’qub seluas-luasnya bagi mrk, dan kalaupun
tindakan mrk itu akan menyedihkan ayahnya ,maka lama-kelamaan akan hilanglah
kesedihan itu bila mrk pandai menghiburnya untuk melupakan dan melenyapkan
bayangan Ysuf dari ingatan ayahnya.
Pada petang hari pulanglah mrk kembali ke rumah tanpa Yusuf
yang di tinggalkan seorang diri di dasar tegala yang gelap itu, dengan membawa
serta pakaiannya setelah disirami darah seorang kelinci yang sengaja dipotong
untuk keperluan itu , mrk mengadap Nabi Ya’qub seraya menangis mencucurkan airmata
dan bersandiwara seakan-akan dan susah hati berkatalah mrk kepada ayahnya:”
Wahai ayah! Alangkah sial dan nahasnya hari ini bagi kami ,bahwa kekhuatiran
yang ayah kemukakan kepada kami tentang Yusuf kepada kami telah pun terjadi dan
menjadi kenyataan bahwa firasat ayah yang tajam itu tidak meleset. Yusuf telah
diterkam oleh seekor serigala dikala kami bermain lumba lari dan meninggalkan
Yusuf seorang diri menjaga pakaian. Kami cukup hati-hati menjaga adik kami
sesuai dengan pesanan ayah, namun karena menurut pengamatan kami pada saat itu,
tidak ada tanda-tanda atau jejak binatang-binatang buas disekitar tempat kami
bermain, kami sesekali tidak melihat adanya bahaya dengan meninggalkan Yusuf
sendirian menjaga pakaian kami yang tidak dari tempat kami bermain bahkan masih
terjangkau oleh pandangan mata kami. Akan tetapi serigala yang rupanya sudah
mengintai adik kami Yusuf itu, bertindak begitu cepat menggunakan kesempatan
lengahnya kami, waktu bermain sehingga tidak keburu kami menolong menyelamatkan
jiwa adik kami yang sangat kami sayangi dan cintai itu. Oh ayah! Kami sangat
sesalkan diri kami yang telah gagal menempati janji dan kesanggupan kami kepada
ayah ketika kami minta izin mambawa Yusuf, namun apa yang hendak dikatakan bila
takdir memang menghendaki yang demikian. Inilah pakaian Yusuf yang berlumuran
dengan darah sebagai bukti kebenaran kami ini, walau pun kami merasakan bahawa
ayah tidak akan mempercayai kami sekalipun kami berkata yang benar.”
Nabi Ya’qub yang sudah memperolehi firasat tentang apa yang
akan terjadi keatas diri Yusuf putera kesayangannya dan mengetahui bagaimana
sikap abang-abangnya terhadap Yusuf adiknya, tidak dapat berbuat apa-apa selain
berpasrah kepada takdir Illahi dan seraya menekan rasa sedih, cemas dan marah
yang sedang bergelora di dalam dadanya, berkatalah beliau kepada
putera-puteranya:” Kamu telah memperturutkan hawa nafsumu dan mengikut apa yang
dirancangkan oleh syaitan kepadamu. Kamu telah melakukan suatu perbuatan yang
akan kamu akan rasa sendiri akibatnya kelak jika sudah terbuka tabir asapnya
yang patut dimintai pertolong-Nya dalam segala hal dan peristiwa.
Isi cerita ini telah dapat dibacakan didalam Al-Quran pada
surah “Yusuf” ayat 11 sehingga 18 sebagai berikut:
” 11. Mereka berkata : “Wahai ayah kami! apa sebabnya kamu
tidak mempercayai kami terhadap Yusuf ,padahal sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang mengingini kebaikan baginya.” 12. Biarkan lah ia pergi bersama
kami besok, agak dia {dapat} bersenang-senang dan {dapat} bermain-main dan
sesungguhnya kami pasti menjaganya.” 13. Berkata Ya’qub:” Sesungguhnya
kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkan dan aku khuatir kalau-kalau dia
dimakan serigala sedang kamu lengah daripadanya.” 14. Mereka berkata: ” Jika ia
benar-benar dimakan serigala, sedang kami adalah golongan {yang kuat}
,sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang rugi.” 15. Maka
tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dalam telaga {lalu
mereka masukkan dia} dan {di waktu dia sudah dalam telaga }Kami wahyukan kepada
{Yusuf}:” Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka
ini, sedang mereka tidak ingat lagi. 16. Kemudian mereka datang kepada ayah
mereka di petang hari sambil menangis. 17. Mereka berkata: “Wahai ayah kami!
Sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf dekat
barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala dan kamu sesekali tidak akan
percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar.” 18. Mereka
datang membawa baju kemejanya {yang berlumuran} dengan darah palsu. Ya’qub
berkata:” Sebenarnya diri kamu sendirilah yang memandang baik perbuatan {yang
buruk} itu maka kesabaran yang baik itulah {kesabaran}. Dan Allah sajalah yang
dimohon perlindungannya terhadap apa yang kamu ceritakan.”
Yusuf dijual-beli sebagai
hamba sahaya, Yusuf sedang berada di dalam perigi itu seorang diri,
diliputi oleh kegelapan dan kesunyian yang mencekam. Ia melihat ke atas dan ke
bawah ke kanan dan ke kiri memikirkan bagaimana ia dapat mengangkatkan dirinya
dari perigi itu , namun ia tidap melihat sesuatu yang dpt menolongnya. IA hanya
dapat melihat bayangan tubuhnya dalam air yang cetek di bawah kakinya. Sungguh
suatu ujian yang amat berat bagi seorang semuda Yusuf yang masih belum banyak
pengalaman nya dalam penghidupan, bah baru pertama kali ia berpisah dari
ayahnya yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Lebih-lebih terasa beratnya
uijian itu ialah karena yang melemparkannya ke dasar telaga itu adalah
abang-abangnya sendiri, putera-putera ayahnya.
Yusuf di samping memikirkan nasibnya yang sedang dialami,
serta bagaimana ia menyelamatkan dirinya dari bahaya kelaparan sekiranya ia
lama tidak tertolong, ia selalu mengenangkan ayahnya ketika melihat
abang-abangnya kembali pulang ke rumah tanpa dirinya bersama mrk.
Tiga hari berselang, sejak Yusuf dilemparkan ke dalam perigi, dan belum nampak tanda-tanda yang memberi harapan baginya dapat keluar dari kurungannya, sedangkan bahaya kelaparan sudah mulai membayangi dan sudah nyaris berputus asa ketika sekonyong-konyong terdengar olehnya suara sayup-sayup, suara aneh yang belum pernah didengarnya sejak ia dilemparkan ke dalam telaga itu. Makin lama makin jelaslah suara-suara itu yang akhirnya terdengar seakan anjing menggonggong suara orang-orang bercakap dan tertawa terbahak-bahak dan suara jejak kaki manusia dan binatang sekitar telaga itu.
Tiga hari berselang, sejak Yusuf dilemparkan ke dalam perigi, dan belum nampak tanda-tanda yang memberi harapan baginya dapat keluar dari kurungannya, sedangkan bahaya kelaparan sudah mulai membayangi dan sudah nyaris berputus asa ketika sekonyong-konyong terdengar olehnya suara sayup-sayup, suara aneh yang belum pernah didengarnya sejak ia dilemparkan ke dalam telaga itu. Makin lama makin jelaslah suara-suara itu yang akhirnya terdengar seakan anjing menggonggong suara orang-orang bercakap dan tertawa terbahak-bahak dan suara jejak kaki manusia dan binatang sekitar telaga itu.
Ternyata apa yang terdengar oleh Yusuf, ialah suara-suara
yang timbul oleh sebuah kafilah yang sedang berhenti di sekitar perigi, di mana
ia terkurung untuk beristirehat sambil mencari air untuk diminum bagi mrk dan
binatang-binatang mrk. alangkah genbiranya Yusuf ketika keetika ia sedang
memasang telinganya dan menengar suara ketua kafilah memerintahkan orangnya
melepaskan gayung mengambil air dari telaga itu. Sejurus kemudian dilihat oleh
Yusuf Sebuah gayung turun ke bawah dan begitu terjangkau oleh tangannya
dipeganglah kuat-kuat gayung itu yang kemudian ditarik ke atas oleh sang
musafir seraya berteriak mengeluh karena beratnya gayung yang ditarik itu.
Para musafir yang berada di kafilah itu terperanjat dan takjub
ketika melihat bahawa yang memberatkan gayung itu bukannya air, tetapi manusia
hidup berparas tampan, bertubuh tegak dan berkulit putih bersih. Mereka
berunding apa yang akan diperbuat dengan hamba Allah yang telah diketemukan di
dalam dasar perigi itu, dilepaskannya di tempat yang sunyi itu atau
dikembalikan kepada keluarganya. Akhirnya bersepakatlah mrk untuk dibawa ke
Mesir dan dijual di sana sebagai hamba sahaya dengan harga, yang menurut
tafsiran mrk akan mencapai harga yang tinggi, karena tubuhnya yang baik dan
parasnya yang tampan.
Setibanya kafilah itu di Mesir, dibawalah Yusuf di sebuah
pasar khusus , di mana manusia diperdagangkan dan diperjual-belikan sebagai
barang dagangan atau sebagai binatang-binatang ternakan. Yusuf lalu ditawarkan
di depan umum dilelongkan. Dan karena para musafir yang membawanya itu khuatir
akan terbuka pertemuan Yusuf maka mereka enggan memepertahankan sampai mencapai
harga yang tinggi, tetapi melepaskannya pada tawaran pertama dengan harga yang
rendah dan tidak memadai. Padahal seorang seperti nabi Yusuf tidak dapat
dinilai dengan wang bahkan dengan emas seisi bumi pun tidak seimbang sebagai
manusia yang besar dan makhluk Allah yang agung seperti Nabi Yusuf yang oleh
Allah telah digariskan dalam takdirnya bahawa ia akan melaksanakan missi yang
suci dan menjalankan peranan yang menentukan dalam pengaulan hidup umat
manusia.
Nabi Yusuf dalam pelelongan itu dibeli oleh keeetua polis
Mesir bernama Fathifar sebagai penawar pertama , yang merasa berbahagia
memperoleh sorang hamba yang berparas bagus, bertubuh kuat dan air muka yang
memberi kesan bahawa dalam manusia yang dibelikan itu terkandung jiwa yang
besar, hati suci bersih dan bahawa ia bukanlah dari kualiti manusia yang harus
diperjual-belikan.
Kata Fathifar kepada isterinya ketika mengenalkan Yusuf kepadanya:” Inilah hamba yang aku baru beli dari pelelongan. Berilah ia perlakuan dan layanan yang baik kalau-kalau kelak kami akan memperolehi manfaat drpnya dan memungutnya sebagai anak kandung kita. Aku dapat firasat dari paras mukanya dan gerak-gerinya bahawa ia bukanlah dari golongan yang harus diperjual-belikan, bahkan mungkin sekali bahawa ia adalah dari keturunan keluarga yang berkedudukan tinggi dan orang-orang yang beradab.
Kata Fathifar kepada isterinya ketika mengenalkan Yusuf kepadanya:” Inilah hamba yang aku baru beli dari pelelongan. Berilah ia perlakuan dan layanan yang baik kalau-kalau kelak kami akan memperolehi manfaat drpnya dan memungutnya sebagai anak kandung kita. Aku dapat firasat dari paras mukanya dan gerak-gerinya bahawa ia bukanlah dari golongan yang harus diperjual-belikan, bahkan mungkin sekali bahawa ia adalah dari keturunan keluarga yang berkedudukan tinggi dan orang-orang yang beradab.
Nyonya Fathifar, isteri Ketua Polis Mesir menerima Yusuf di
rumahnya, sesuai dengan pesanan suaminya. dilayan sebagai salah seorang
daripada anggota keluarganya dan sesekali tidak diperlakukannya sebagai hamba
belian. Yusuf pun dapat menyesuaikan diri dengan keadaan rumahtangga Futhifar.
Ia melakukan tugas sehari-harinya di rumah dengan penuh semangat dan dengan
kejujuran serta disiplin yang tinggi. Segala kewajiban dan tugas yang
diperintahkan kepadanya, diurus dengan senang hati seolah-olah dari perintah
oleh orang tuanya sendiri. Demikianlah, maka makin lama makin disayanglah akan
Yusuf di rumah Ketua Polis Mesir itu sehingga merasa seakan-akan berada di
rumah keluarga dan orang tuanya sendiri.
Tentang isi cerita di atas, dapat dibaca dalam surah “Yusuf”
ayat 19 sehingga ayat 21 sebagai berikut: ~
“19. Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mrk menyuruh seorang mengambil air mereka, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: ” Oh! Khabar gembira, ini seorang anak muda!” Kemudian mrk menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mrk kerjakan. 20. Dan mrk menjual Yusuf dengan harga yang murah, iaitu beberapa dirham shj, dan mrk merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf 21. Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: ” Berikanlah kepadanya tempat {dan layanan} yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Dan demekian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi {Mesir} dan agar kami ajarkan kepadanya takdir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” {Surah Yusuf : 19 ~ 21}
“19. Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mrk menyuruh seorang mengambil air mereka, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: ” Oh! Khabar gembira, ini seorang anak muda!” Kemudian mrk menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mrk kerjakan. 20. Dan mrk menjual Yusuf dengan harga yang murah, iaitu beberapa dirham shj, dan mrk merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf 21. Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: ” Berikanlah kepadanya tempat {dan layanan} yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Dan demekian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi {Mesir} dan agar kami ajarkan kepadanya takdir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” {Surah Yusuf : 19 ~ 21}
Yusuf dalam godaan nyonya
Futhifar, Yusuf hidup tenang dan tenteram di rumah Futhifar, Ketua
Polis Mesir, sejak ia menginjakkan kakinya di rumah itu. Ia mendpt kepercayaan
penuh dari kedua majikannya, suami-isteri, mengurus rumah-tangga mereka dan
melaksanakan perintah dan segala keperluan mrk dengan sesungguh hati, ikhlas
dan kejujuran, tiada menuntut upah dan balasan atas segala tenaga dan jerih
payah yang dicurahkan untuk kepentingan keluarga. Ia menganggap dirinya di
rumah itu bukan sebagai hamba bayaran, tetapi sebagai seorang drp anggota
keluarga. demikian pula anggapan majikannya, suami-isteri terhadap dirinya.
Ketenangan hidup dan kepuasan hati yang diperdpt oleh Yusuf
selama ia tinggal di rumah Futhifar, telah mempengaruhi kesihatan dan
pertumbuhan tubuhnya. Ia yang telah dikurnai oleh Tuhan kesempurnaan jasmani
dengan kehidupan yang senang dan empuk di rumah Futhifar, makin terlihat tambah
segar wajahnya, tambah elok parasnya dan tambah tegak tubuhnya, sehingga ia
merupakan seorang pemuda remaja yang gagah perkasa yang menggiurkan hati setiap
wanita yang melihatnya, tidak terkecuali isteri Futhifar, majikannya sendiri,
bahkan bukan tidak mungkin bahwa ia akan menjadi rebutan lelaki, andai kata ia
hidup di kota Sadum di tengah-tangah kaum Nabi Luth ketika itu.
Pengaulan hari-hari di bawah satu atap rumah antara Yusuf
pemuda remaja yang gagah perkasa dan Nyonya Futhifar, seorang wanita muda
cantik dan ayu, tidak akan terhindar dari risiko terjadinya perbuatan maksiat,
bila tidak ada kekuatan iman dan takwa yang menyekat hawa nafsu yang ammarah
bissu. Demikian lah akan apa yang terjadi terhadap Yusuf dan isteri Ketua Polis
Mesir.
Pada hari-hari pertama Yusuf berada di tengah-tengah keluarga , Nyonya Futhifar tidak menganggapnya dan memperlakukannya lebih dari sebagai pembantu rumah yang cekap, tangkas, giat dan jujur, berakhlak dan berbudi pekerti yang baik. Ia hanya mengagumi sifat-sifat luhurnya itu serta kecekapan dan ketangkasan kerjanya dalam menyelesaikan urusan dan tugas yang pasrahkan kepadanya. Akan tetapi memang rasa cinta itu selalu didahului oleh rasa simpati.
Pada hari-hari pertama Yusuf berada di tengah-tengah keluarga , Nyonya Futhifar tidak menganggapnya dan memperlakukannya lebih dari sebagai pembantu rumah yang cekap, tangkas, giat dan jujur, berakhlak dan berbudi pekerti yang baik. Ia hanya mengagumi sifat-sifat luhurnya itu serta kecekapan dan ketangkasan kerjanya dalam menyelesaikan urusan dan tugas yang pasrahkan kepadanya. Akan tetapi memang rasa cinta itu selalu didahului oleh rasa simpati.
Simpati dan kekaguman Nyonya Futhifar terhadap cara kerja
Yusuf, lama-kelamaan berubah menjadi simpati dan kekaguman terhadap bentuk
banda dan paras mukanya. Gerak-geri dan tingkah laku Yusuf diperhatika dari
jauh dan diliriknya dengan penuh hati-hati. Bunga api cinta yang masih kecil di
dalam hati Nyonya Futhifar terhadap Yusuf makin hari makin membesar dan membara
tiap kali ia melihat Yusuf berada dekatnya atau mendengar suaranya dan suara
langkah kakinya. Walaupun ia berusaha memandamkan api yang membara di dadanya
itu dan hedak menyekat nafsu berahi yang sedang bergelora dalam hatinya, untuk
menjaga maruahnya sebagai majikan dan mepertahankan sebagai isteri Ketua Polis,
namun ia tidak berupaya menguasai perasaan hati dan hawa nasfunya dengan
kekuatan akalnya. Bila ia duduk seorang diri, maka terbayanglah di depan
matanya akan paras Yusuf yang elok dan tubuhnya yang bagus dan tetaplah melekat
bayangan itu di depan mata dan hatinya, sekalipun ia berusaha untuk
menghilangkannya dengan mengalihkan perhatiannya kepada urusan dan kesibukan
rumahtangga. Dan akhirnya menyerahlah Nyonya Futhifar kepada kehendak dan
panggilan hati dan nafsunya yang mnedpt dukungan syaitan dan iblis dan
diketepikanlahnya semua pertimbangan maruah, kedudukan dan martabat serta
kehormatan diri sesuai dengan tuntutan dengan akal yang sihat.
Nyonya Futhifar menggunakan taktik, mamancing-mancing Yusuf
agar ia lebih dahulu mendekatinya dan bukannya dia dulu yang mendekati Yusuf
demi menjaga kehormatan dirinya sebagai isteri Ketua Polis. Ia selalu berdandan
dan berhias rapi, bila Yusuf berada di rumah, merangsangnya dengan
wangi-wangian dan dengan memperagakan gerak-geri dan tingkah laku sambil
menampakkan, seakan-akan dengan tidak sengaja bahagian tubuhnya yang biasanya
menggiurkan hati orang lelaki.
Yusuf yang tidak sedar bahwa Zulaikha, isteri Futhifar, mencintai dan mengandungi nafsu syahwat kepadanya, menganggap perlakuan manis dan pendekatan Zulaikha kepadanya adalah hal biasa sesuai dengan pesanan Futhifar kepada isterinya ketika dibawa pulang dari tempat perlelongan. Ia berlaku biasa sopan santun dan bersikap hormat dan tidak sedikit pun terlihat dari haknya sesuatu gerak atau tindakan yang menandakan bahwa ia terpikat oleh gaya dan aksi Zulaikha yang ingin menarik perhatiannya dan mengiurkan hatinya. Yusuf sebagai calon Nabi telah dibekali oleh Allah dengan iman yang mantap, akhlak yang luhur dan budi pekerti yang tinggi. Ia tidak akan terjerumus melakukan sesuatu maksiat yang sekaligus merupakan perbuatan atau suatu tindakan khianat terhadap orang yang telah mempercayainya memperlakukannya sebagai anak dan memberinya tempat di tengah-tengah keluarganya.
Yusuf yang tidak sedar bahwa Zulaikha, isteri Futhifar, mencintai dan mengandungi nafsu syahwat kepadanya, menganggap perlakuan manis dan pendekatan Zulaikha kepadanya adalah hal biasa sesuai dengan pesanan Futhifar kepada isterinya ketika dibawa pulang dari tempat perlelongan. Ia berlaku biasa sopan santun dan bersikap hormat dan tidak sedikit pun terlihat dari haknya sesuatu gerak atau tindakan yang menandakan bahwa ia terpikat oleh gaya dan aksi Zulaikha yang ingin menarik perhatiannya dan mengiurkan hatinya. Yusuf sebagai calon Nabi telah dibekali oleh Allah dengan iman yang mantap, akhlak yang luhur dan budi pekerti yang tinggi. Ia tidak akan terjerumus melakukan sesuatu maksiat yang sekaligus merupakan perbuatan atau suatu tindakan khianat terhadap orang yang telah mempercayainya memperlakukannya sebagai anak dan memberinya tempat di tengah-tengah keluarganya.
Sikap dingin dan acuh tak acuh dari Yusuf terhadap rayuan
dan tingkah laku Zulaikha yang bertujuan membangkitkan nafsu syahwatnya
menjadikan Zulaikha bahkan tambah panas hati dan bertekad dkan berusaha terus
sampai maksudnya tercapai. Jika aksi samar-samar yang ia lakukan tetap tidak
dimengertikan oleh Yusuf Yang dianggapkannya yang berdarah dingin itu, maka
akan dilakukannya secara berterus terang dan kalau perlu dengan cara paksaan sekalipun.
Zulaikha , tidak tahan lebih lama menunggu reaksi dari Yusuf yang tetap bersikap dingin , acuh tak acuh terhadap rayuan dan ajakan yang samar-samar daripadanya. Maka kesempatan ketika si suami tidak ada di rumah, masuklah Zulaikha ke bilik tidurnya seraya berseru kepada Yusuf agar mengikutinya. Yusuf segera mengikutinya dan masuk ke bilik di belakang Zulaikha, sebagaimana ia sering melakukannya bila di mintai pertolongannya melakukan sesuatu di dalam bilik. Sekali-kali tidak terlintas dalm fikirannya bahwa perintah Zulaikha kali itu kepadanya untuk masuk ke biliknya bukanlah perintah biasa untuk melekukan sesuatu yang biasa diperintahkan kepadanya. Ia baru sedar ketika ia berad di dalam bilik, pintu dikunci oleh Zulaikha, tabir disisihkan seraya berbaring berkatalah ia kepada Yusuf: ” Ayuh, hai Yusuf! Inilah aku sudah siap bagimu, aku tidak tahan menyimpan lebih lama lagi rasa rinduku kepada sentuhan tubuhmu. Inilah tubuhku kuserahkan kepadamu, berbuatlah sekehendak hatimu dan sepuas nafsumu.”
Zulaikha , tidak tahan lebih lama menunggu reaksi dari Yusuf yang tetap bersikap dingin , acuh tak acuh terhadap rayuan dan ajakan yang samar-samar daripadanya. Maka kesempatan ketika si suami tidak ada di rumah, masuklah Zulaikha ke bilik tidurnya seraya berseru kepada Yusuf agar mengikutinya. Yusuf segera mengikutinya dan masuk ke bilik di belakang Zulaikha, sebagaimana ia sering melakukannya bila di mintai pertolongannya melakukan sesuatu di dalam bilik. Sekali-kali tidak terlintas dalm fikirannya bahwa perintah Zulaikha kali itu kepadanya untuk masuk ke biliknya bukanlah perintah biasa untuk melekukan sesuatu yang biasa diperintahkan kepadanya. Ia baru sedar ketika ia berad di dalam bilik, pintu dikunci oleh Zulaikha, tabir disisihkan seraya berbaring berkatalah ia kepada Yusuf: ” Ayuh, hai Yusuf! Inilah aku sudah siap bagimu, aku tidak tahan menyimpan lebih lama lagi rasa rinduku kepada sentuhan tubuhmu. Inilah tubuhku kuserahkan kepadamu, berbuatlah sekehendak hatimu dan sepuas nafsumu.”
Seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, berkatalah Yusuf:”
Semoga Allah melindungiku dari godaan syaitan. Tidak mungkin wahai tuan
puteriku aku akan melakukan maksiat dan memenuhi kehendakmu. Jika aku melakukan
apa yang tuan puteri kehendaki, maka aku telah mengkhianati tuanku, suami tuan
puteri, yang telah melimpahkan kebaikannya dan kasih sayangnya kepadaku.
Kepercayaan yang telah dilimpahkannya kepadaku, adalah suatu amanat yang tidak
patut aku cederai. Sesekali tidak akanku balas budi baik tuanku dengan perkhianatan
dan penodaan nama baiknya. Selain itu Allah pun akan murka kepadaku dan akan
mengutukku bila bila aku lakukan apa yang tuan puteri mintakan daripadaku.
Allah Maha Mengetahui segala apa yang diperbuat oleh hambanya.
Segera mata Zulaikha melotot dan wajahnya menjadi merah,
tanda marah yang meluap-luap, akibat penolakan Yusuf tehadap ajaknya. Ia
merasakan dirinya dihina dan diremehkan oleh Yusuf dengan penolakannya, yang
dianggapnya suatu perbuatan kurang ajar dari seorang pelayan terhadap
majikannya yang sudah merendahkan diri, mengajaknya tidur bersama, tetapi
ditolak mentah-mentah. Padhal tidak sedikit pembesar pemerintah dan orang-orang
berkedudukan telah lama merayunya dan ingin sekali menyentuh tubuhnya yang elok
itu, tetapi tidak dihiraukan oleh Zulaikha.
Yusuf melihat mata Zulaikha yang melotot dan wajahnya yang
menjadi merah, menjadi takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dan
segera lari menuju pintu yang tertutup, namun Zulaikha cepat-cepat bangun dari
ranjangnya mengejar Yusuf yang sedang berusaha membuka pintu, ditariknyalah
kuat-kuat oleh Zulaikha bahagian belakang kemejanya sehingga terkoyak. Tepat
pada masa mereka berada di belakang pintu sambil tarik menarik, datanglah
Futhifar mendapati mrk dalam keadaan yang mencurigakan itu.
Dengan tiada memberi kesempatan Yusuf membuka mulut,
berkatalah Zulaikha cepat-cepat kepada suaminya yang masih berdiri tercengang
memandang kepada kedua orang kepercayaan itu:” Inilah dia Yusuf , hamba yang
engkau puja dan puji itu telah berani secara kurang ajar masuk ke bilikku dan
memaksaku memenuhi nafsu syahwatnya. Berilah ia ganjaran yang setimpal dengan
perbuatan biadabnya. Orang yang tidak mengenal budi baik kami ini harus
dipenjarakan dan diberika seksaan yang pedih.”
Yusuf mendengar laporan dan tuduhan palsu Zulaikha kepada
suaminya, tidak dpt berbuat apa-apa selain memberi keterangan apa yang terjadi
sebenarnya. Berkatalah ia kepada majikannya, Futhifar:” Sesungguhnya dialah
yang menggodaku, memanggilkan aku ke biliknya, lalu memaksaku memenuhi nafsu
syahwatnya. Aku menolak tawarannya itu dan lari menyingkirinya, namun ia
mengejarku dan menarik kemejaku dari belakang sehingga terkoyak.”
Futhifar dalam keadaan bingung. Sipakah diantara kedua orang yang benar? Yusufkah yang memang selama hidup bersama dirumahnya belum pernah berkata dusta, atau Zulaikhakah yang dalam fikirannya tidak mungkin akan mengkhianatinya? Dalam keadaan demikian itu tibalah sekonyong-konyong seorang dari keluarga Zulaikha, iaitu saudaranya sendiri yang dikenal bijaksana, pandai dan selalu memberi pertimbangan yang tepat bila dimintai fikiran dan nasihatnya. Atas permintaan Futhifar untuk memberinya pertimbangan dalam masalah yang membingungkan itu, berkatalah saudaranya:” Lihatlah, bila kemeja Yusuf terkoyak bahgian belakangnya, maka ialah yang benar dan isterimu yang dusta. Sebaliknya bila koyak kemejanya di bahagian hadapan maka dialah yang berdusta dan isterimu yang berkata benar.”
Futhifar dalam keadaan bingung. Sipakah diantara kedua orang yang benar? Yusufkah yang memang selama hidup bersama dirumahnya belum pernah berkata dusta, atau Zulaikhakah yang dalam fikirannya tidak mungkin akan mengkhianatinya? Dalam keadaan demikian itu tibalah sekonyong-konyong seorang dari keluarga Zulaikha, iaitu saudaranya sendiri yang dikenal bijaksana, pandai dan selalu memberi pertimbangan yang tepat bila dimintai fikiran dan nasihatnya. Atas permintaan Futhifar untuk memberinya pertimbangan dalam masalah yang membingungkan itu, berkatalah saudaranya:” Lihatlah, bila kemeja Yusuf terkoyak bahgian belakangnya, maka ialah yang benar dan isterimu yang dusta. Sebaliknya bila koyak kemejanya di bahagian hadapan maka dialah yang berdusta dan isterimu yang berkata benar.”
Berkatalah Futhifar kepada isterinya setelah persoalannya
menjadi jelas dan tabir rahsianya terungkap:” Beristighfarlah engkau hai
Zulaikha dan mohonlah ampun atas dosamu. Engkau telah berbuat salah dan dusta
pula untuk menutupi kesalahanmu. Memang yang demikian itu adalah sifat-sifat
dan tipu daya kaum wanita yang sudah kami kenal.” Kemudian berpalinglah dia
mengadap Yusuf dan berkata kepadanya:” Tutuplah rapat-rapat mulutmu wahai
Yusuf, dan ikatlah lidahmu, agar masalah ini akan tetap menjadi rahsia yang
tersimpan sekeliling dinding rumah ini dan jangan sesekali sampai keluar dan
menjadi rahsia umum dan buah mulut masyarakat. Anggap saja persoalan ini sudah
selesai sampai disini.”
Ada sebuah peribahasa yang berbunyi:” Tiap rahsia yang
diketahui oleh dua orang pasti tersiar dan diketahui oleh orang ramai.”
Demikianlah juga peristiwa Zulaikha dengan Yusuf yang dengan ketat ingin
ditutupi oleh keluarga Futhifar tidak perlu menunggu lama untuk menjadi rahsia
umum. pada mulanya orang berbisik-bisik dari mulut ke mulut, menceritakan
kejadian itu, tetapi makin hari makin meluas dan makin menyebar ke tiap-tiap
pertemuan dan menjadi bahan pembicaraan di kalangan wanita-wanita dari golongan
atas dan menengah. Kecaman-kecaman yang bersifat sindiran mahupun yang
terang-terangan mulai dilontarkan orang terhadap Zulaikha, isteri Ketua Polis
Negara, yang telah dikatakan bercumbu-cumbuan dengan pelayannya sendiri,
seorang hamba belian dan yang sangat memalukan kata mrk bahwa pelayan bahkan
menolak ajakan majikannya dan tatkala melarikan diri drpnya dikejarkannya
sampai bahagian belakang kemejanya terkoyak.
Kecaman-kecaman sindiran-sindiran dan ejekan-ejekan orang
terhadap dirinya akhirnya sampailah di telinga Zulaikha. Ia menjadi masyangul
dan sedih hati bahwa peristiwanya dengan Yusuf sudah menjadi buah mulut orang
yang dengan sendirinya membawa nama baik keluarga dan nama baik suaminya
sebagai Ketua Polis Negara yang sgt disegani dan dihormati. Zulaikha yang
sangat marah dan jengkel terhadap wanita-wanita sekelasnya, isteri-isteri
pembesar yang tidak henti-hentinya dalam pertemuan mrk menyinggung namanya
dengan ejekan dan kecaman sehubungan dengan peristiwanya dengan Yusuf.
Utk mengakhiri desas-desus dan kasak-kusuk kaum wanita para
isteri pembesar itu, Zulaikha mengundang mrk ke suatu jamuan makan di rumahnya,
dengan maksud membuat kejutan memperlihatkan kepada mrk Yusuf yang telah
menawankan hatinya sehingga menjadikan lupa akan maruah dan kedudukan sebagai
isteri Ketua Polis Negara.
Dalam pesta itu para undangan diberikan tempat duduk yang empuk dan masing-masing diberikan sebilah pisau yang tajam untuk memotong daging dan buah-buahan yang tersedia dan sudah dihidangkan.
Dalam pesta itu para undangan diberikan tempat duduk yang empuk dan masing-masing diberikan sebilah pisau yang tajam untuk memotong daging dan buah-buahan yang tersedia dan sudah dihidangkan.
Setelah masing-masing tamu menduduki tempatnya dan
disilakannya menikmati hidangan yang sudah tersedia di depannya, maka tepat
pada masa mrk sibuk mengupas buah yang ada ditangan masing-masing, dikeluarkannyalah
Yusuf oleh Zulaikha berjalan sebagai peragawan di hadapan wanita-wanita yang
sedang sibuk memotong buah-buahan itu. Tanpa disadari para tamu wanita yang
sedang memegang pisau dan buah-buahan di tangannya seraya ternganga mengagumi
keindahan wajah dan tubuh Yusuf mrk melukai jari-jari tangannya sendir dan
sambil menggeleng-geleng kepala kehairanan, maka berkatalah mrk:” Maha
Sempurnalah Allah. Ini bukanlah manusia. Ini adalah seorang malaikat yang
mulia.”
Zulaikha bertepuk tangan tanda genbira melihat usah
kejutannya brhasil dan sambil menujuk ke jari-jari wanita yang terhiris dan
mencucurkan darah itu berkatalah ia:” Inilah dia Yusuf, yang menyebabkan aku
menjadi bual-bualan ejekanmu dan sasaran kecaman-kecaman orang Tidakkah kami
setelah melihat Yusuf dengan mata kepala memberi uzur kepadaku, bila ia menawan
hatiku dan membangkitkan hawa nafsu syahwatku sebagai seorang wanita muda yang
tidak pernah melihat orang yang setampan parasnya, seindah tubuhnya dan seluhur
akhlak Yusuf? Salahkah aku jika aku tergila-gila olehnya, sampai lupa akan
kedududkanku dan kedudukan suamiku? Kamu yang hanya melihat Yusuf sepintas lalu
sudah kehilangan kesedaran sehingga bukan buah-buahan yang kamu kupas tetapi
jari-jari tanganmu yang terhiris. Maka hairankah kalau aku yang berkumpul
dengan Yusuf di bawah satu bumbung, melihat wajah dan tubuhnya serta mendengar
suaranyapada setiap saat dan setiap detik sampai kehilangan akal sehingga tidak
dapat mengawal nafsu syahwatku menghadapinya? Aku harus mengaku didepan kamu bahawa
memang akulah yang menggodanya dan merayunya dan dengan segala daya upaya ingin
memikat hatinya dan mengundangnya untuk menyambut cintaku dan melayani nafsu
syahwatku. Akan tetapi dia bertahan diri, tidak menghiraukan ajakanku dan
bersikap dingin terhadap rayuan dan godaanku. Ia makin menjauhkan diri, bila
aku mencuba mendekatinya dan memalingkan pandangan matanya dari pandanganku
bila mataku menentang matanya. Aku telah merendahkan diriku sebagai isteri
Ketua Polis Negara kepada Yusuf yang hanya seorang hamba sahaya dan pembantu
rumah, namaku sudah terlanjur ternoda dan menjadi ejekan orang karenanya, maka
bila tetap membangkang dan tidak mahu memperturutkan kehendakku, aku tidak akan
ragu-ragu akan memasukkannya ke dalam penjara sepanjang waktu sebagai
pengajaran baginya dan imbalan bagi kecemaran namaku karenanya.”
Mendengar kata-kata ancaman Zulaikha terhadap diri Yusuf
menggugah hati para wanita yang menaruh simpati dan rasa kasihan kepada diri
Yusuf. Mrk menyayangkan bahwa tubuh yang indah dan wajah yang tampan serta
manusia yang berbudi pekerti dan berakhlak luhur itu tidak patut dipenjarakan
dan dimasukkan ke tempat orang-orang yang melakukan jenayah dan penjahat.
Berkata salah seorang yang menghampirinya:” Wahai Yusuf! Mengapa engkau berkeras kepala menghadapi Zulaikha yang menyayangimu dan mencintaimu? Mengapa engkau menolak ajakan dan seruannya terhadapmu? Suatu keuntungan besar bagimu, bahwa seorang wanita cantik seperti Zulaikha yang bersuamikan seorang pembesar negara tertarik kepadamu dan menginginkan pendekatanmu. Ataukah mungkin engkau adalah seorang lelaki yang lemah syahwat dan karena itu tidak tertarik oleh kecantikan serta keelokan seorang wanita muda seperti Zulaikha.”
Berkata salah seorang yang menghampirinya:” Wahai Yusuf! Mengapa engkau berkeras kepala menghadapi Zulaikha yang menyayangimu dan mencintaimu? Mengapa engkau menolak ajakan dan seruannya terhadapmu? Suatu keuntungan besar bagimu, bahwa seorang wanita cantik seperti Zulaikha yang bersuamikan seorang pembesar negara tertarik kepadamu dan menginginkan pendekatanmu. Ataukah mungkin engkau adalah seorang lelaki yang lemah syahwat dan karena itu tidak tertarik oleh kecantikan serta keelokan seorang wanita muda seperti Zulaikha.”
Berkata seorang tamu wanita lain:” Jika sekiranya kamu tidak
tertarik kepada Zulaikha karena kecantikannya, maka berbuatlah untuk
kekayaannya dan kedudukan suaminya. sebab jika engkau dapat menyesuaikan dirimu
kepada kehendak Zulaikha dan mengikuti segala perintahnya nescay engkau akan
dianugerahi harta yang banyak dan mungkin pangkatmu pun akan dinaikkan.”
Berucap seorang tamu lain memberi nasihat:” Wahai Yusuf! fikirkanlah baik-baik dan camkanlah nasihatku ini: Zulaikha sudah berketetapan hati harus mencapai tujuannya dan memperoleh akan apa yang dikehendakinya drpmu. Ia sudah terlanjur diejek dan dikecam orang dan sudah terlanjur namanya menjadi bualan di dalam masyarakat karena engkau maka dia mengancam bila engkau tetap berkeras kepala dan tidak melunakkan sikapmu terhadap tuntutannya, pasti ia akan memasukkan engkau ke dalam penjara sebagai penjahat dan penjenayah. Engkau mengetahui bahawa suami Zulaikha adlah Ketua Polis Negara yang berkuasa memenjarakan seseorang ke dalam tahanan dan engkau mengetahui pula bahwa Zulaikha sgt berpengaruh kepada suaminya. Sayangilah wahai Yusuf dirimu yang masih muda remaja dan tampan ini dan ikutilah perintah Zulaikha agar engkau selamat dan terhindar dari akibat yang kami tidak menginginkan ke atas dirimu.”
Berucap seorang tamu lain memberi nasihat:” Wahai Yusuf! fikirkanlah baik-baik dan camkanlah nasihatku ini: Zulaikha sudah berketetapan hati harus mencapai tujuannya dan memperoleh akan apa yang dikehendakinya drpmu. Ia sudah terlanjur diejek dan dikecam orang dan sudah terlanjur namanya menjadi bualan di dalam masyarakat karena engkau maka dia mengancam bila engkau tetap berkeras kepala dan tidak melunakkan sikapmu terhadap tuntutannya, pasti ia akan memasukkan engkau ke dalam penjara sebagai penjahat dan penjenayah. Engkau mengetahui bahawa suami Zulaikha adlah Ketua Polis Negara yang berkuasa memenjarakan seseorang ke dalam tahanan dan engkau mengetahui pula bahwa Zulaikha sgt berpengaruh kepada suaminya. Sayangilah wahai Yusuf dirimu yang masih muda remaja dan tampan ini dan ikutilah perintah Zulaikha agar engkau selamat dan terhindar dari akibat yang kami tidak menginginkan ke atas dirimu.”
Kata-kata nasihat dan bujukan para wanita ,Tamu Zulaikha itu
didengar oleh Yusuf dengan telinga kanan dan keluar ke telinga kirinya. Tidak
suatu pun daripadanya yang dapat turun ke lubuk hatinya atau menjadi bahan
penimbangannya. Akan tetapi walaupun ia percaya kepada dirinya, tidak akan
terpengaruh oleh bujukan dan nasihat-nasihat itu, ia merasa khuatir, bahwa jika
masih tinggal lama di tengah-tengah pergaulan itu akhirnya mungkin ia akan
terjebak dan masuk ke dalam perangkap tipu daya dan tipu muslihat Zulaikha dan
kawan-kawan wanitanya.
Berdoalah Nabi Yusuf memohon kepada Allah agar memberi
ketetapan iman dan keteguhan tekad kepadanya spy tidak tersesat oleh godaan
syaitan dan tipu muslihat kaum wanita yang akan menjerumuskannya ke dalam
lembah kemaksiatan dan perbuatan mungkar. Berucaplah ia di dalam doanya:” Ya
Tuhanku! sesungguhnya aku lebih suka dipenjarakan berbanding aku berada di luar
tetapi harus memperturutkan hawa nafsu para wanita itu. Lindungilah aku wahai
Tuhanku dari pergaulan orang-orang yang hendak membawaku ke jalan yang sesat
dan memaksaku melakukan perbuatan yang Engkau tidak redhai. Bila aku
dipenjarakan akan ku bulatkan fikiranku serta ibadahku kepadamu wahai Tuhanku.
Jauhkanlah daripadaku rayuan dan tipu daya wanita-wanita itu, supaya aku tidak
termasuk dari orang-orang yang bodoh dan sesat.”
Futhifar, Ketua Polis Negara, Suami Zulaikha mengetahui
dengan pasti bahwa Yusuf bersih dari tuduhan yang dilemparkan kepadanya. Ianya
pula sedar bahwa isterinyalah yang menjadi biang keladi dalam peristiwa yang
sampai mencemarkan nama baik keluarganya. Akan tetapi ia tidak dapat berbuat
selain mengikuti nasihat isterinya yang menganjurkan agar Yusuf dipenjarakan.
Karena dengan memasukkan Yusuf ke dalam tahanan, pendapat umum akan berubah dan
berbalik akan menuduh serta menganggap Yusuflah yang bersalah dalam peristiwa
itu dan bukannya Zulaikha. Dengan demikian mrk berharap nama baiknya akan pulih
kembali dan desas-desus serta kasak-kasuk masyarakat tentang rumahtanggannya
akan berakhir. Demikianlah, maka perintah dikeluarkan oleh Futhifar dan
masuklah Yusuf ke dalam penjara sesuai dengan doanya.
Isi cerita di atas dapat dibaca dalam Al-Quran surah Yusuf
ayat 22 sehingga ayat 35 :
“22. Dan tatkala ia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya
hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik. 23. Dan wanita {Zulaikha} yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda
Yusuf untuk menundukkan dirinya {kepadanya} dan dia menutup pintu-pintu seraya
berkata: ” Marilah kesini “. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah,
sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguh orang-orang yang
zalim tidak akan beruntung. 24. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud
{melakukan perbuatan itu} dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud {melakukan pula}
dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda {dari} Tuhannya. Demikian
agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf
itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. 25. Dan kedua-duanya
berlumba-lumba menuju pintu dan wanita itu menarik baju kemeja Yusuf dari
belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka
pintu. Wanita itu berkata:” Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud
berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau dihukum dengan azab
yang pedih?” 26. Yusuf berkata:” Dia menggodaku untuk menundukkan diriku
{kepadanya}.” Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberi kesaksiannya:”
Jika bajunya koyak dihadapan, maka wanita itu benar, dan Yusuf termasuk
orang-orang yang dusta. 27. Dan jika bajunya koyak dibelakang, mka wanita
itulah yang dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar”. 28. Maka tatkala
suami wanita itu melihat baju kemeja Yusuf koyak dari belakang berkatalah dia:”
Sesungguhnya kejadian itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu
daya kamu besar”. 29. Hai Yusuf:” Berpalinglah dari ini dan kamu {hai isteriku}
mohon ampunlah atas doamu itu karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang
yang berbuat salah”. 30. Dan wanita-wanita di kota itu berkata:” Isteri Al-Aziz
menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya kepadanya, sesungguhnya cintanya
kepada bujangan itu adalah sgt mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam
kesesatan nyata.” 31. Maka tatkala wanita itu {Zulaikha} mendengar cercaan
mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat
duduk dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebilah pisau {utk memotong
jamuan} kemudian dia berkata {kepada Yusuf}:” Keluarlah {nampakkanlah dirimu}
kepada mrk”. Maka tatakala wanita-wanita itu melihatnya, mrk kagum kepada
{keindahan rupa} nya dan mrk melukai {jari} tangannya dan berkata:” Maha
sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah
malaikat yang mulia”. 32. Wanita itu {Zulaikha} berkata:” Itulah dia orang yang
kamu cela aku karena {tertarik} kepadanya dan sesungguhnya aku telah menggoda
dia untuk menundukkan dirinya {kepadaku} akan tetapi dia menolak. Dan
sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya nescaya
dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk orang-orang yang hina”. 33. Yusuf
berkata:” Wahai Tuhanku penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka
kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan drpku tipu daya mrk tentu akan aku
cenderung untuk {memenuhi keinginan mrk} dan tentulah aku termasuk orang-orang
yang bodoh”. 34. Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan
Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. 35. Kemudian ambil fikiran kepada mrk setelah melihat tanda-tanda
{kebenaran Yusuf} bahwa mrk harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu”. {
Yusuf : 25 ~ 35 }
Yusuf dalam penjara,
Yusuf di masukkan ke dalam penjara bukannya karena ia telah melakukan kesalahan
atau kejahatan, tetapi karena sewenang-wenangnya penguasa yang memenjarakannya
untuk menutupi dosanya sendiri dengan menempelkan dosa itu kepada orang yang
dipenjarakan. Akan tetapi bagi Nabi Yusuf, penjara adalah tempat yang aman
untuk menghindari segala godaan dan tipu daya yang akan menjerumuskannya ke
dalam kemaksiatan dan perbuatan mungkar. Bagi Yusuf hidup di dalam sebuah
penjara yang gelap dan sempit, dimana gerak bandanya dan pandangan matanya
dibatasi, adalah lebih baik dan lebih disukai drp hidup di alam bebas di mana
jiwanya tertekan dan hatinya tidak merasa aman dan tenteram. Di dalam penjara Yusuf
dpt membulatkan fikirannya dan jiwanya beribadah dan menyembah kepada Allah.
Disamping itu ia dpt melakukan dakwah di dalam penjara,
memberi bimbingan dan nasihat kepada pesalah, agar mrk yang telah berdosa
melakukan kejahatan, bertaubat dan kembali menjadi orang-orang yang baik,
sedang kepada tahanan yang tidak berdosa yang menjadi korban perbuatan penguasa
yang sewenang-wenang dihiburkna agar mrk bersabar dan bertakwa, bertawakkal
serta beriman memohon kepada Allah mengakhiri penderitaan dan kesengsaraan mrk.
Bersama dengan Yusuf, dipenjarakan pula dua orang pegawai istana Raja dengan tujuan hendak meracunkan Raja atas perintah dan dengan kerjasama dengan pihak musuh istana. Dua pemuda pegawai yang dipenjara itu, seorang penjaga gudang mknan dan seorang sebagai pelayan meja istana.
Bersama dengan Yusuf, dipenjarakan pula dua orang pegawai istana Raja dengan tujuan hendak meracunkan Raja atas perintah dan dengan kerjasama dengan pihak musuh istana. Dua pemuda pegawai yang dipenjara itu, seorang penjaga gudang mknan dan seorang sebagai pelayan meja istana.
Pada suatu hari pagi datanglah kedua pemuda tahanan itu ke
tempat Nabi Yusuf mengisahkan bahwa mrk telah mendpt mimpin. Si pelayan melihat
ia seakan-akan berada di tengah sebuah kebun anggur memegang gelas, seperti
gelas yang sering diguna minumkan oleh Raja, majikannya lalu diisinya gelas itu
dengan perahan buah anggur. Sedang pemuda penjaga gudang melihat dalam
mimpinnya seolah-olah mendukung di atas kepalanya sebuah keranjang yang berisi
roti, roti mana disambar oleh sekelompok burung dan di bawanya terbang. Kedua
pemuda tahanan itu mengharapkan dari Nabi Yusuf agar memberi tafsiran bagi
mimpi mrk itu.
Nabi Yusuf yang telah dikurniai kenabian dan ditugaskan oleh
Allah menyampaikan risalah-Nya kepada hamba-hamba-Nya memulai dakwahnya kepada
kedua pemuda yang datang menanyakan tafsiran mimpinnya, mengajak mrk beriman
kepada Allah Yangg Maha Esa, meninggalkan persembahan kepada berhala-berhala
yang mrk ada-adakan sendiri dengan memberi nama-nama kepada berhala-berhala itu
sesuka hati mrk. untuk membuktikan kepada kedua pemuda itu bahwa ia adalah
seorang Nabi dan pesuruh Allah, berkata Nabi Yusuf:” Aku tahu dan dapat
menerangkan kepada kamu, makanan apa yang akan kamu terima, apa jenisnya dan
berapa banyaknya demikian pula jenisnya dan macam mana minuman yang akan kamu
terima.
Demikian pula dapat aku memberi tafsiran bagi mimpi seorang
termasuk kedua mimpimu. Itu semua adalah ilmu yang dikurniakan oleh Allah
kepadaku. Aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada
Allah dan mengingkari adanya hari kiamat kelak. Aku telah mengikuti agama
bapa-bapaku, Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub. Tidaklah sepatutnya kami menyekutukan
sesuatu bagi Allah yang telah mengurniakan rahmat dan nikmat-Nya atas kami dan
atas manusia seluruhnya tetapi kebanyakkan manusia tidak menghargai nikmat
Allah itu dan tidak mensyukuri-Nya. Cubalah fikirkan wahai teman-temanku dalam
penjara mana yang lebih baik dan lebih masuk akal, penyembahan kepada beberapa
tuhan yang berbeda-beda atau penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Maha
Perkasa? Tuhan telah memerintahkan janganlah kamu menyembahkan selain drp Dia.
Itulah agama yang benar dan lurus, tetapi banyak orang tidak mengetahui dan
tidak mahu mengerti.”
” Adapun mengenai mimpimu”, Nabi Yusuf melanjutkan
ceritanya,” Maka takbirnya bahwa engkau, wahai pemuda pelayan, segera akan
dikeluarkan dari penjara dan akan dipekerjakan kembali seperit sedia kala,
sedangkan engkau wahai pemuda penjaga gudang akan dihukum mati dengan disalib
dan kepalamu akan menjadi makan burung-burung yang mematuknya. Demikianlah
takbir mimpimu yang telah menjadi hukum Allah bagi kamu berdua.”
Berkata Nabi Yusuf selanjutnya kepada pemuda yang diramalkan akan keluar dari penjara:” Wahai temanku, pesanku kepadamu, bila engkau telah keluar dan kembali bekerja di istana sebutlah namaku dihadapan Raja, majikanmu. Katalah kepadanya bahwa aku dipenjarakan sewenang-wenangnya, tidak berdosa dan tidak bersalah. Aku hanya dipenjara untuk kepentingan menyelamatkan nama keluarga Ketua Polis Negara dan atas anjuran isterinya belaka. Jangalah engkau lupakan pesananku ini, wahai temanku yang baik.”
Berkata Nabi Yusuf selanjutnya kepada pemuda yang diramalkan akan keluar dari penjara:” Wahai temanku, pesanku kepadamu, bila engkau telah keluar dan kembali bekerja di istana sebutlah namaku dihadapan Raja, majikanmu. Katalah kepadanya bahwa aku dipenjarakan sewenang-wenangnya, tidak berdosa dan tidak bersalah. Aku hanya dipenjara untuk kepentingan menyelamatkan nama keluarga Ketua Polis Negara dan atas anjuran isterinya belaka. Jangalah engkau lupakan pesananku ini, wahai temanku yang baik.”
Kemudian, maka sesuai dengan takbir Nabi Yusuf, selang tidak
lama keluarlah surat pengampunan Raja bagi pemuda pelayan dan hukuman salib
bagi pemuda penjaga gudang dilaksanakan. Akan tetapi pesanan Nabi Yusuf kepada
pemuda pelayan, tidak disampaikan kepada Raja setelah ia diterima kembali
bekerja di istana. Syaitan telah menjadikannya lupa setelah ia menikmati
kebebasan dari penjara dan dengan demikian tetaplah Nabi Yusuf berada di
penjara beberapa tahun lamanya, penghibur para tahanan yang tidak berdosa dan
mendidik serta berdakwah kepada tahanan yang telah bersalah melakukan kejahatan
dan perbuatan -perbuatan yang buruk, agar mrk menjadi orang-orang yang baik dan
bermanfaat bagi sesama manusia dan menjadi hamba-hamba Allah yang beriman dan
bertauhid.
Isi cerita ini ada tersebut di dalam Al-Quran pada surah
“Yusuf” ayat 36 sehingga ayat 42 :~
“36.~ Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua
orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya:” Sesungguhnya aku
bermimpi, bahwa aku memerah anggur.” Dan yang lain berkata:” Sesungguhnya aku
bermimpi bahwa aku membawa roti di atas kepalaku dan sebahagiannya dimakan
burung.” Beritakan kepada kami takbirnya, sesungguhnya kami memandang kamu
termasuk orang-orang yang pandai {menakbir mimpi}. 37.~ Yusuf berkata:” Sebelum
sampai kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku
telah dpt menerangkan jenis makanan itu sebelum makanan itu sampai kepadamu.
Yang demikian itu adalah sebahagian dari apa yang diajarkan oleh Tuhanku
kepadaku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak
beriman kepada Allah, sedang mrk ingkar kepada hari kemudian. 38.~ Dan aku
mengikuti agama bapa-bapaku, iaitu Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub. Tiadalah patut
bagi kami {para nabi} mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Yang
demikian itu adalah dari kurniaan Allah kepada kami dan kepada manusia
seluruhnya, tetapi kebanyakkan manusia itu tidak mensyukurinya. 39.~ Hai kedua
temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuha yang bermacam-macam itu
ataukah allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? 40.~ Kamu tidak menyembah yang
selain Allah melainkan hanya {menyembah nama-nama yang kamu dan nenek moyang
kamu membuat-buatnya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang
nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan
agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus tetapi
kebanyakkan manusia tidak mengetahui. 41.~ Hai kedua temanku dalam penjara
adapun salah seorang diantara kamu berdua akan memberi minum tuannya dengan
arak adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib lalu burung memakan
sebahagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkarayang kamu berdua
menanyakannya {kepadaku}”. 42.~ Dan Yusuf berkata kepada orang yang
diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua:” Terangkanlah keadaanku
kepada tuanmu”. Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan {keadaan Yusuf}
kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia {Yusuf} dalam penjara beberapa tahun
lamanya.” {Yusuf : 36 ~ 42}
Yusuf dibebaskan dari
penjara, Pada suatu hari berkumpullah di istana raja Mesir, para
pembesar, penasihat dan para arif bijaksana yang sengaja diundang oelh untuk
memberi takbir mimpi yang telah merunsingkan dan menakutkan hatinya. Ia
bermimpi seakan-akan melihat tujuh ekor sapi betina lain yang kurus-kurus.
Disamping itu ia melihat pula dalam mimpinya tujuh butir gandum hijau disamping
tujuh butir yang lain kering.
Tidak seorang drp. pembesar-pembesar yang didatangkan itu yang dapat memberi tafsiran takbir bagi mimpi Raja bahkan sebahagian drp mrk menganggapkannya sebagai mimpi kosong yang tiada bererti dan menganjurkan kepada Raja melupakan saja mimpi itu dan menghilangkannya dari fikirannya.
Tidak seorang drp. pembesar-pembesar yang didatangkan itu yang dapat memberi tafsiran takbir bagi mimpi Raja bahkan sebahagian drp mrk menganggapkannya sebagai mimpi kosong yang tiada bererti dan menganjurkan kepada Raja melupakan saja mimpi itu dan menghilangkannya dari fikirannya.
Pelayan Raja, pemuda teman Yusuf dalam penjara, pada masa
pertemuan Raja dengan para tetamunya, lalu teringat olehnya pesan Nabi Yusuf
kepadanya sewaktu ia akan dikeluarkan dari penjara dan bahwa takbir yang
diberikan oleh Nabi Yusuf bagi mimpinya adalah tepat, telah terjadi sebagaimana
telah ditakdirkan. Ia lalu memberanikan diri menghampiri Raja dan berkata:”
Wahai Paduka Tuanku! Hamba mempunyai seorang teman kenalan di dalam penjara
yang pandai menakbirkan mimpi. Ia adalah seorang yang cekap, ramah dan berbudi
pekerti luhur. Ia tidak berdosa dan tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia
dipenjara hanya atas fitnahan dan tuduhan palsu belaka. Ia telah memberi takbir
bagi mimpiku sewaktu hamba berada dalam tahanan bersamanya dan ternyata
takbirnya tepat dan benar sesuai dengan apa yang hamba alami. Jika Paduka Tuan
berkenan, hamba akan pergi mengunjunginya di penjara untuk menanyakan dia
tentang takbir mimpi Paduka Tuan.”
Dengan izin Raja, pergilah pelayan mengunjungi Nabi Yusuf
dalam penjara. Ia menyampaikan kepada Nabi Yusuf kisah mimpinya Raja yang tidak
seorang pun drp anggota kakitangannya dan para penasihatnya dpt memberikan
takbir yang memuaskan dan melegakan hati majikannya. Ia mengatakan kepada Nabi
Yusuf bahwa jika Raja dpt dipuaskan dengan pemberian bagi takbir mimpinya,
mungkin sekali ia akan dikeluarkan dari penjara dan dengan demikian akan
berakhirlah penderitaan yang akan dialami bertahun-tahun dalam kurungan.
Berucaplah Nabi Yusuf menguraikan takbirnya bagi mimpi
Raja:” Negara akan menghadapi masa makmur, subur selama tujuh tahun, di mana
tumbuh-tumbuhan dan semua tanaman gandum, padi dan sayur mayur akan mengalami
masa menuai yang baik yang membawa hasil makanan berlimpah-ruah, kemudian
menyusuk musim kemarau selama tujuh tahun berikutnya dimana sungai Nil tidak
memberi air yang cukup bagi ladang-ladang yang kering, tumbuh-tumbuhan dan
tanaman rusak dimakan hama ssedang persediaan bahan makanan, hasil tuaian
tahun-tahun subur itu sudah habis dimakan. Akan tetapi, Nabi Yusuf melanjutkan
keterangannya, setelah mengalami kedua musim tujuh tahun itu akan tibalah tahun
basah di mana hujan akan turun dengan lebatnya menyirami tanah-tanah yang
kering dan kembali menghijau menghasilkan bahan makanan dan buah-buahan yang
lazat yang dpt diperah untuk diminum.”
” Maka jika takbirku ini menjadi kenyataan ,” Nabi Yusuf
berkata lebih lanjut,” seharusnya kamu menyimpan baik-baik apa yang telah
dihasilkan dalam tahun-tahun subur, serta berjimat dalam pemakaiannya untuk
persiapan menghadapi masa kering, agar supaya terhindarlah rakyat dari bencana
kelaparan dan kesengsaraan.”
Raja setelah mendengar dari pelayannya apa yang diceritakan oleh Nabi Yusuf tentang mimpinya merasakan bahwa takbir yang didengarkan itu sgt masuk akal dan dpt dipercayai bahwa apa yang telah diramalkan oleh Yusuf akan menjadi kenyataan. Ia memperoleh kesan bahwa Yusuf yang telah memberi takbir yang tepat itu adalah seorang yang pandai dan bijaksana dan akan sgt berguna bagi negara jikaia didudukkan di istana menjadi penasihat dan pembantu kerajaan. Maka disuruhnyalah kembali si pelayan ke penjara untuk membawa Yusuf menghadap kepadanya di istana.
Raja setelah mendengar dari pelayannya apa yang diceritakan oleh Nabi Yusuf tentang mimpinya merasakan bahwa takbir yang didengarkan itu sgt masuk akal dan dpt dipercayai bahwa apa yang telah diramalkan oleh Yusuf akan menjadi kenyataan. Ia memperoleh kesan bahwa Yusuf yang telah memberi takbir yang tepat itu adalah seorang yang pandai dan bijaksana dan akan sgt berguna bagi negara jikaia didudukkan di istana menjadi penasihat dan pembantu kerajaan. Maka disuruhnyalah kembali si pelayan ke penjara untuk membawa Yusuf menghadap kepadanya di istana.
Nabi Yusuf yang sudah cukup derita hidup sebagai orang
tahanan yang tidak berdosa, dan ingin segera keluar dari kurungan yang mencekam
hatinya itu, namun ia enggan keluar dari penjara sebelum peristiwanya dengan
isteri Ketua Polis Negara dijernihkan lebih dahulu dan sebelum tuduhan serta
fitnahan yang ditimpakan ke atas dirinya diterangkan kepalsuannya. Nabi Yusuf
ingin keluar dari penjara sebagai orang yang suci bersih dan bahwa dosa yang
diletakkan kepada dirinya adalah fitnahan dan tipu-daya yang bertujuan menutupi
dosa isteri Ketua Polis Negara sendiri.
Raja Mesir yang sudah banyak mendengar tentang Nabi Yusuf
dan terkesan oleh takbir yang diberikan bagi mimpinya secara terperinci dan
menyeluruh makin merasa hormat kepadanya, mendengar tuntutannya agar
diselesaikan lebih dahulu soal tuduhan dan fitnahan yang dilemparkan atas dirinya
sebelum ia dikeluarkan dari penjara. Hal mana menurut fikiran Raja menandakan
kejujurannya, kesucian hatinya dan kebesaran jiwanya bahwa ia tidak ingin
dibebaskan atas dasar pengampunan tetapi ingin dibebaskan karena ia bersih dan
tidak bersalah serta tidak berdosa.
Tuntutan Nabi Yusuf diterima oleh Raja Mesir dan segera
dikeluarkan perintah mengumpulkan para wanita yang telah menghadiri jamuan
makan Zulaikha dan terhiris hujung jari tangan masing-masing ketika melihat
wajahnya. Di hadapan Raja mereka menceritakan tentang apa yang mrk lihat dan
alami dalam jamuan mkn itu serta percakapan dan soal jawab yang mrk lakukan
dengan Nabi Yusuf. Mrk menyatakan pesan mrk tentang diri Nabi Yusuf bahwa ia
seorang yang jujur, soleh, bersih dan bukan dialah yang salah dalam
peristiwanya dengan Zulaikha. Zulaikha pun dalam pertemuan itu, mengakui bahwa
memang dialah yang berdosa dalam peristiwanya dengan Yusuf dan dialah yang
menganjurkan kepada suaminya agar memenjarakan Yusuf untuk memberikan gambaran
palsu kepada masyarakat bahwa dialah yang salah dan bahwa dialah yang
memperkosa kehormatannya.
Hasil pertemuan Raja dengan para wanita itu di umumkan agar
diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan dengan demikian terungkaplah
tabir yang meliputi peristiwa Yusuf dan Zulaikha. Maka atas, perintah Raja,
dikeluarkanlah Nabi Yusuf dari penjara secara hormat, bersih dari segala
tuduhan. Ia pergi langsung ke istana Raja memenuhi undangannya.
Bacalah isi cerita ini dalam Al-Quran surah “Yusuf” ayat 43
sehingga ayat 53 :~
“43.~ Raja berkata {kepada orang-orang terkemuka dari
kaumnya}: “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang
kurus-kurus dan tujuh butir {gandum} yang hijau dan tujuh butir lainnya yang
kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku tentang takbir
mimpiku itu, jika kamu dapat menakbirkan mimpi.” 44.~ Mrk menjawab: “{Itu}
adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sesekali tidak tahu menakbirkan mimpi”.
45.~ Dan berkatalah orang yang selamat di antara mrk berdua dan teringat {kepada
Yusuf} sesudah beberapa waktu lamanya; “Aku akan memberitakan kepadamu tentang
{orang yang pandai} menakbirkan mimpi itu, maka utuslah aku {kepadanya} “. 46.~
{Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf ia berseru}: ” Yusuf, hai orang yang
sgt dpt dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi yang
gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh
butir {gandum} yang hijau dan {tujuh} lainnya yang kering agar aku kembali
kepada orang-orang itu, agar mrk mengetahuinya”. 47.~ Yusuf berkata: “Supaya
kamu bertanam tujuh tahun {lamanya} sebagaimana biasa maka apa yang kamu tuai
hendaklah kamu biarkan di butirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. 48.~
Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan
apa yang kamu simpan untuk menghadapinya {tahun sulit} kecuali sedikit dari
{benih gandum} yang kamu simpan. 49.~ Kemudian setelah itu akan datang tahun
yang padanya manusia diberi hujan {dengan cukup} dan di masa mrk memeras
anggur”. 50.~ Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku”. Maka tatakala utusan itu
datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan
tanyakanlah kepadanya bagimana halnya wanita-wanita yang telah melukai
tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mrk”. 51.~ Raja
berkata: “{kepada wanita-wanita itu}, Bagaimana keadaan kamu ketika kamu
menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya {kepadamu}?” Mrk berkata: “Maha
sempurnalah Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukkan drpnya”. Berkata
{Zulaikha} isteri Al-Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang
menggodanya untuk menundukkan dirinya {kepadaku} dan sesungguhnya dia termasuk
orang-orang yang benar”. 52.~ Yusuf berkata: “Yang demikian itu agar dia
{Al-Aziz} mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di
belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meredhai tipu daya orang-orang yang
berkhianat. 53.~ dan aku tidak membebaskan diriku {dari kesalahan}, karena
sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi
rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
{Yusuf : 43~53}
Yusuf diangkat sebagai
wakil raja Mesir, Raja Mesir yang telah banyak mendengar tentang Nabi Yusuf
dari pelayannya, teman Nabi Yusuf dalam penjara, dari kesaksian wanita-wanita,
tamu Zulaikha dalam jamuan makan dan dari Zulaikha sendiri, makin bertambah
rasa hormatnya dan kagumnya terhadap Nabi Yusuf setelah berhadapan muka dan
bercakap-cakap dengan beliau sekeluarnya dari penjara.
Kecerdasan otak Nabi Yusuf, pengetahuannya yang luas, kesabaran , kejujurannya, keramah-tamahannya dna akhlak serta budi pekerti luhurnya, menurut fikiran Raja akan sangat bermanfaat bagi kerajaannya bila Nabi Yusuf diserahi pimpinan negara dan rakyat. Maka kepada Nabi Yusuf dalam pertemuan pertamanya dengan Raja ditawarkan agar ia tinggal di istana mewakili Raja menyelenggarakan pemerintahan serta pengurusan negara serta memimpin rakyat Mesir yang diramalkan akan menghadapi masa-masa sukar dan sulit.
Kecerdasan otak Nabi Yusuf, pengetahuannya yang luas, kesabaran , kejujurannya, keramah-tamahannya dna akhlak serta budi pekerti luhurnya, menurut fikiran Raja akan sangat bermanfaat bagi kerajaannya bila Nabi Yusuf diserahi pimpinan negara dan rakyat. Maka kepada Nabi Yusuf dalam pertemuan pertamanya dengan Raja ditawarkan agar ia tinggal di istana mewakili Raja menyelenggarakan pemerintahan serta pengurusan negara serta memimpin rakyat Mesir yang diramalkan akan menghadapi masa-masa sukar dan sulit.
Nabi Yusuf tidak menolak tawaran Raja Mesir itu. Ia
menerimanya asal saja kepadanya diberi kekuasaan penuh dalam bidang kewangan
dan bidang pengedaran bhn makanan, karena menurut pertimbangan Nabi Yusuf,
kedua bidang yang berkaitan antara satu sama lain itu merupakan kunci dari
kesejahteraan rakyat dan kestabilan negara. Raja yang sudah mempunyai
kepercayaan penuh terhadap diri Nabi Yusuf, terhadap kecerdasan otaknya,
kejujuran serta kecekapannya menyetujui fikiran beliau dan memutuskan untuk
menyerahkan kekuasaannya kepada Nabi Yusuf dalam suatu upacara penobatan yang
menurut lazimnya dan kebiasaan yang berlaku.
Pada hari penobatan yang telah ditentukan, yang dihadiri
oleh para pembesarnegeri dan pemuka-pemuka masyarakat, Nabi Yusuf dikukuhkan
sebagai wakil Raja, dengan mengenakan pakaian kerajaan dan di lehernya dikalung
dengan kalung emas, kemudian raja di hadapan para hadiri melepaskan cincin dari
jari tangannya lalu dipasangkannya ke jari tangan Nabi Yusuf, sebagai tanda
penyerahan kekuasaan kerajaan.
Setelah selesai penobatan dan serah terima jabatan Nabi Yusuf A.S. maka Raja Mesir berkenan untuk mengahwinkan Yusuf dengan Zulaikha {Ra’il} janda majikannya yang telah mati ketika Nabi Yusuf A.S. masih dalam penjara.
Setelah selesai penobatan dan serah terima jabatan Nabi Yusuf A.S. maka Raja Mesir berkenan untuk mengahwinkan Yusuf dengan Zulaikha {Ra’il} janda majikannya yang telah mati ketika Nabi Yusuf A.S. masih dalam penjara.
Kemudian setelah Nabi Yusuf bergaul dengan isterinya ia
berkata:” Tidakkah ini lebih baik drp apa yang anda kehendaki dahulu itu.”
Jawab Zulaikha {Raa’il}: “Wahai orang yang jujur baik, jangan mencelaku. Anda
mengetahui bahwa aku dahulu sedemikian muda dan cantik, dalam keadaan serba
mewah, sedang suamiku lemah, tidak dpt memuaskan isteri dan dijadikan oleh
Allah sedemikian tampannya, maka aku kalah dengan hawa nafsuku”. Demikianlah
keadaannya, karena itu Nabi Yusuf A.S. masih bertemu dengan Zulaikha dalam
keadaan gadis, dan mendpt dua orang putera drpnya, Ifratsim dan Minsya bin
Yusuf.
Demikianlah rahmat dan kurniaan Tuhan yang telah memberi
kedudukan tinggi dan kerajaan besar kepada hamba-Nya Nabi Yusuf setelah
mengalami beberapa penderitaan dan ujian yang berat, yang dimulai dengan
pelemparannya ke dalam sebuah perigi oleh saudara-saudaranya sendiri, kemudian
dijual-belikannya sebagai hamba dalam suatu penawaran umum dan pada akhirnya
setelah ia mulai merasa ketenangan hidup di rumah Ketua Polis Mesir datanglah
godaan dan fitnahan yang berat bagi dirinya di mana nama baiknya dikaitkan
dengan suatu perbuatan maksiat yang menyebabkan ia meringkok dalam penjara
selama bertahun-tahun.
Sebagai penguasa yang bijaksana, Nabi Yusuf memulakan
tugasnya dengan mengadakan lawatan ke daerah-daerah yang termasuk dalam
kekuasaannya untuk berkenalan dengan rakyat jelata serta daerah yang
diperintahnya dari dekat, sehingga segala rancangan dan peraturan yang akan
diadakan dpt memenuhi keperluan dan sesuia dengan iklim dan keadaan daerah.
Dalam masa tujuh tahun pertama Nabi Yusuf menjalankan pemerintahan di Mesir, rakyat merasakan hidup tenteram , aman dan sejahtera. Barang-barang keperluan cukup terbahagi merata dijangkau oleh semua lapisan masyrakat tanpa terkecuali. Dalam pada itu Nabi Yusuf tidak lupa akan peringatan yang terkandung dalam mimpi Raja Mesir, bahwa akan dtg masa tujuh tahun yang sukar dan sulit. Maka untuk menghadapi masa itu, Nabi Yusuf mempersiapkan gudang dan kepuk-kepuk bagi penyimpanan bhn mknan untuk musim kemarau yang akan dtg.
Dalam masa tujuh tahun pertama Nabi Yusuf menjalankan pemerintahan di Mesir, rakyat merasakan hidup tenteram , aman dan sejahtera. Barang-barang keperluan cukup terbahagi merata dijangkau oleh semua lapisan masyrakat tanpa terkecuali. Dalam pada itu Nabi Yusuf tidak lupa akan peringatan yang terkandung dalam mimpi Raja Mesir, bahwa akan dtg masa tujuh tahun yang sukar dan sulit. Maka untuk menghadapi masa itu, Nabi Yusuf mempersiapkan gudang dan kepuk-kepuk bagi penyimpanan bhn mknan untuk musim kemarau yang akan dtg.
Berkat pengurusan yang bijaksana dari Nabi Yusuf, maka
setelah masa hijau dan subur berlalu dan masa kemarau kering tiba, rakyat Mesir
tidak sampai mengalami krisi makanan atau derita kelaparan. Persediaan bhn
mknan yang dihimpun di waktu masa hijau dan subur dpt mencukupi keperluan
rakyat selama masa kering, bahkan masa dapat menolong masyarakat Mesir yang
sudah kekurangan bhn makanan dan menghadapi bahaya kelaparan.
Kisah pengangkatan Nabi Yusuf sebagai penguasa Mesir
diceritakan dalam Al-Quran dalam surah “Yusuf” ayat 54 sehingga ayat 57 yang
berbunyi sebagai berikut:~
“54.~ Dan Raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku
memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah
bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu {mulai hari ini
menjadi seorang yang berkedudukkan tinggi lagi dipercayai pd sisi kami}”. 55.~
Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara {Mesir} sesungguhnya aku
adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”. 56.~ Dan demikianlah
Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir {dia berkuasa penuh} pergi
menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat
Kami kepada sesiapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak mensia-siakan pahala
orang-orang yang berbuat baik. 57.~ Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih
baik bagi orang-orang beriman dan selalu bertakwa.” {Yusuf : 54 ~ 57
}
Pertemuan Yusuf A.S dengan
saudara-saudaranya, Kemudian dtglah orang
berduyun-duyun dari kota dan desa-desa pinggiran Mesir, bahkan dari
negara-negara yang berhampiran Mesir yang sudah kekurangan bhn makanan bagi
rakyatnya. Mrk dtg bagi mengharapkan pertolongan Nabi Yusuf untuk memberi
kesempatan membeli gandum serta lain-lain bhn mknan yang masih tersedia dalam
gudang-gudang pemerintah.
Di antara para pendatang yang ingin berbelanja di Mesir terdapat rombongan orang-orang Palestin, termasuk di antara mrk ialah saudara-saudara Nabi Yusuf sendiri, ialah penyebab utama bagi penderitaan yang telah di alaminya. Nabi Yusuf segera mengenal mereka tetapi sebaliknya mrk tidak mengenal akan Nabi Yusuf yang pernah dilemparkan ke dalam telaga. Bahkan tidak terlintas dalam fikiran mrk bahwa Yusuf masih hidup, apa lagi menjadi orang besar memimpin negara Mesir sebagai wakil Raja yang berkuasa mutlak.
Di antara para pendatang yang ingin berbelanja di Mesir terdapat rombongan orang-orang Palestin, termasuk di antara mrk ialah saudara-saudara Nabi Yusuf sendiri, ialah penyebab utama bagi penderitaan yang telah di alaminya. Nabi Yusuf segera mengenal mereka tetapi sebaliknya mrk tidak mengenal akan Nabi Yusuf yang pernah dilemparkan ke dalam telaga. Bahkan tidak terlintas dalam fikiran mrk bahwa Yusuf masih hidup, apa lagi menjadi orang besar memimpin negara Mesir sebagai wakil Raja yang berkuasa mutlak.
Atas pertanyaan Nabi Yusuf berkatalah jurucakap rombongan
putera-putera Ya’qub: “Wahai Paduka Tuan, kami adalah putere-putera Ya’qub yang
kesemuanya adalah dua belas orang Yang termuda di antara kami putera ayah yang
bongsu kami tinggalkan rumah untuk menjaga ayah kami yang talah lamjut usia dan
buta pula. Seorang saudara lain telah lama meninggalkan rumah dan hingga kami
tidak mengetahui di mana dia berada. Kami datang kemari atas perintah ayah
kami, agar memohon pertolongan dna bantuan Paduka Tuan yang budiman, kiranya
dpt memberi kesempatan memperkenankan kami membeli gandum dari pesediaan
pemerintahan tuan, bagi memenuhi keperluan kami yang sgt mendesak, sehubungan
dengan krisis bhn makanan yang menimpa daerah kami.”
Berkata Nabi Yusuf menjawab keterangan-keterangan saudaranya
itu: “Sesungguhnya kami meragukan identiti kamu dan menyangsikan keteranganmu
ini. Kami tidak dpt mengabaikan adanya kemungkinan bahwa kamu adalah mata-mata
yang dikirim oleh musuh-musuh kami untuk mengadakan kekecohan dan kekacauan di
negeri kami karenanya kami menghendaki memberi bukti-bukti yang kuat atas
kebenaran kata-katamu atau membawa saksi-saksi yang kami percaya bahwa kamu
adalah beul-betul putera-putera Ya’qub.”
“Paduka Tuan Yang bijaksana”, menyambut jurucakap itu, “Kami
adalah orang-orang musafir gharib di negeri tuan, tidak seorang pun di sini
mengenal kami atau kami kenal, maka sukar sekali bagi kami pada masa ini
memberi bukti atau membawa saksi sebagaimana Paduka Tuan serukan. Maka kami
hanya berpasrah kepada Paduka Tuan untuk memberi jalan kepada kami dengan cara
bagaimana kami dpt memenuhi seruan paduka itu.”
“Baiklah”, Nabi Yusuf berkata, “Kali ini kami memberi kesempatan kepada kamu untuk membeli gandum dari gudang kami secukupnya keperluaan kamu sekeluarga dengan syarat bahwa kamu harus kembali kesini secepat mungkin membawa saudara bongsumu yang kamu tinggalkan dirumah. Jiak syarat ini tidak dipenuhi, maka kami tidak akan melayani keperluan kamu akan gandum untuk masa selanjutnya.” Berkata abang kepada Yusuf yang tidak mengenalkannya itu: “Paduka Tuan kami mengira bahwa ayah kami tidak akan mengizinkan kami membawa adik bongsu kami ke sini, karena ia adalah kesayangan ayah kami yang sangat dicintai dan dia adalah penghibur ayah yang menggantikan kedudukan saudara kami Yusuf, sejak ia keluar dari rumah menghilangkan tanpa meninggalkan bekas. Akan tetapi bagaimana pun untuk kepentingan kami sekeluarga, akan kami usahakan sedapat mungkin memujuk ayah agar memngizinkan kami membawa adik kami Benyamin ke mari dalam kesempatan yang akan datang.”
“Baiklah”, Nabi Yusuf berkata, “Kali ini kami memberi kesempatan kepada kamu untuk membeli gandum dari gudang kami secukupnya keperluaan kamu sekeluarga dengan syarat bahwa kamu harus kembali kesini secepat mungkin membawa saudara bongsumu yang kamu tinggalkan dirumah. Jiak syarat ini tidak dipenuhi, maka kami tidak akan melayani keperluan kamu akan gandum untuk masa selanjutnya.” Berkata abang kepada Yusuf yang tidak mengenalkannya itu: “Paduka Tuan kami mengira bahwa ayah kami tidak akan mengizinkan kami membawa adik bongsu kami ke sini, karena ia adalah kesayangan ayah kami yang sangat dicintai dan dia adalah penghibur ayah yang menggantikan kedudukan saudara kami Yusuf, sejak ia keluar dari rumah menghilangkan tanpa meninggalkan bekas. Akan tetapi bagaimana pun untuk kepentingan kami sekeluarga, akan kami usahakan sedapat mungkin memujuk ayah agar memngizinkan kami membawa adik kami Benyamin ke mari dalam kesempatan yang akan datang.”
Sejak awal Nabi Yusuf melihat wajah-wajah saudaranya yang
dtg memerlukan gandum, tidak ada niat sedikit pun dalam hatinya hendak
mempersukarkan missi mrk sebagai balas dendam atas perbuatan yang mrk telah
lakukan terhadap dirinya. Soal jawab yang dilakukan dengan mrk hanya sekadar
ingin mengetahui keadaan ayah dan adik bongsunya, Benyamin yang sudah
bertahun-tahun ditinggalkan dan hanya sekadar taktik untuk mempertemukan
kembali dengan ayah dan saudara-saudaranya yang sudah lama terpisah.
Kemudian Nabi Yusuf memerintahkan pegawai-pegawainya mengisi
karung-karung saudaranya dengan gandum dan bhn makanan yang mrk perlu. Sedang
brg-brg emas dan perak yang mrk bawa untuk harga gandum dan bhn makn itu,
diisikan kembali ke dalam karung-karung mrk secara diam-diam tanpa mrk ketahui.
Setibanya kembali di Palestin berceritalah mrk kepada ayahnya Ya’qub tentang perjalanan mrk dan bagaimana Yusuf menerima mrk, yang dipujinya sebagai penguasa yang bijaksana, adil, sabar, rendah hati dan sangat ramah-tamah. Tanpa sedikit kesukaran pun mrk telah diberikan hajat mrk dari gandum yang diisikan sekali oleh pegawai-pegawai Yusuf ke dalam karung mrk.Disampaikan pula oleh mrk kepada ayahnya, bahwa mrk diharuskan oleh Yusuf membawa adik bongsu mrk ke Mesir, bila mrk dtg lagi untuk membeli gandum dan bhn mknan. Tanpa membawa adik termaksud, mrk tidak akan dilayani dan diperkenankan membeli gandum yang mrk perlukan. Karenanya mrk dari jauh-jauh mohon agar mrk diperkenankan membawa adik mrk Benyamin bila mrk harus kembali ke Mesir untuk membeli gandum.
Setibanya kembali di Palestin berceritalah mrk kepada ayahnya Ya’qub tentang perjalanan mrk dan bagaimana Yusuf menerima mrk, yang dipujinya sebagai penguasa yang bijaksana, adil, sabar, rendah hati dan sangat ramah-tamah. Tanpa sedikit kesukaran pun mrk telah diberikan hajat mrk dari gandum yang diisikan sekali oleh pegawai-pegawai Yusuf ke dalam karung mrk.Disampaikan pula oleh mrk kepada ayahnya, bahwa mrk diharuskan oleh Yusuf membawa adik bongsu mrk ke Mesir, bila mrk dtg lagi untuk membeli gandum dan bhn mknan. Tanpa membawa adik termaksud, mrk tidak akan dilayani dan diperkenankan membeli gandum yang mrk perlukan. Karenanya mrk dari jauh-jauh mohon agar mrk diperkenankan membawa adik mrk Benyamin bila mrk harus kembali ke Mesir untuk membeli gandum.
Berkata Nabi Ya’qub serta merta setelah mendengar cerita
putera-puteranya:”Tidak,sesekali tidak akanku berikan izinkan kepadamu untuk
membawa Benyamin jauh drpku. Aku tidak akan mempercayakan Benyamin kepadamu
setelah apa yang terjadi dengan diri Yusuf adikmu.Kamu telah berjanji akan
menjaganya baik-baik, bahkan sanggup mengorbankan jiwa-ragamu untuk
keselamatannya.
Akan tetapi apa yang telah terjadi adalah sebaliknya. Kamu pulang ke rumah dalam keadaan selamat, sedang adikmu Yusuf, kamu lepaskan menjadi mangsa serigala. Cukuplah apa yang telahku alami mengenai diri Yusuf dan janganlah terulang lagi kali ini mengenai diri Benyamin”.
Akan tetapi apa yang telah terjadi adalah sebaliknya. Kamu pulang ke rumah dalam keadaan selamat, sedang adikmu Yusuf, kamu lepaskan menjadi mangsa serigala. Cukuplah apa yang telahku alami mengenai diri Yusuf dan janganlah terulang lagi kali ini mengenai diri Benyamin”.
Ketika karung-karung yang dibawa kembali dari Mesir
dibongkar, ternyata didalamnya terdpt barang-barang emas dan perak yang telah
mrk bayarkan untuk harga gandum yang dibeli. Maka seraya tercengang bercampur
gembira, berlari-larilah mrk menyampaikan kehairanan mrk kepada ayahnya. Mereka
berkata: “Wahai ayah! KAmi tidak berdusta dalam cerita kami tentang itu
penguasa Mesir orang baik hati. Lihatlah brg-brg emas dan perak yang telah kami
bayarkan untuk ganti gandum yang kami terima, dipulangkan kembali ke dalam
karung-karung kami tanpa kami mengetahui. Jadi apa yang kami bawa ini adalah
pemberian percuma dari penguasa Mesir yang sgt murah hati itu.”
Dengan diperolehnya gandum, bantuan percuma dari putera yang
tidak mrk kenali, keluarga Ya’qub menjadi tenang dan merasa buat beberapa
waktu, bahwa api didapur rumah akan tetap menyala. akan tetapi persediaan yang
terbatas itu tidak bertahan lama jika tidak disusul dengan pengisian stok baru
selama musim kemarau belum berakhir. Demikianlah maka Nabi Ya’qub yang melihat
persediaan gandumnya makin hari makin berkurangan sedangkan tanda-tanda krisis
makanan belum nampak, terpaksalah ia mengutus putera-puteranya kembali ke mesir
untuk memperoleh bekalan untuk kedua kalinya dari Yusuf wakil Raja negeri itu.
Dan karena putera-putera Ya’qub tidak akan berangkat ke Mesir tanpa Benyamin,
sesuai janji mrk kepada Yusuf, maka terpaksa pulalah Ya’qub mengikut sertakan
putera bongsunya Benyamin dalam rombongan abg-abgnya.
Dengan iringan doa serta nasihat si ayah, berangkatlah
kafilah putera-putera Ya’qub yang terdiri dari sebelas orang Setiba mrk
diperbatasan kota berpisahlah menjadi beberapa kelompok memasuki kota dari arah
yang berlainan sesuai dengan pesan ayah mrk untuk menghindari timbulnya iri
hati penduduk serta prasangka dan tuduhan bahwa mrk adalah mata-mata musuh.
Setibanya di istana kerajaan mrk diterima oleh adik mereka sendiri Yusuf yang belum mrk kenal kembali, dengan penuh ramah-tamah dan dihormati dengan jamuan makan. Bagi mrk disediakan tempat penginapan untuk setiap dua orang sebuah rumah, sedang adik bongsu Yusuf, Benyamin diajak bersamanya menginap didalam istana.
Setibanya di istana kerajaan mrk diterima oleh adik mereka sendiri Yusuf yang belum mrk kenal kembali, dengan penuh ramah-tamah dan dihormati dengan jamuan makan. Bagi mrk disediakan tempat penginapan untuk setiap dua orang sebuah rumah, sedang adik bongsu Yusuf, Benyamin diajak bersamanya menginap didalam istana.
Sewaktu berada berduaan dengan Yusuf, Benyamin mencucurkan
airmata seraya berkata kepada abangnya yang belum dikenal kembali: “Andaikan
abgku Yusuf masih hidup, nescaya engkau akan menempatkan aku bersamanya di
sebuah rumah tersendiri sebagaimana saudara-saudaraku yang lain.” Yusuf lalu
menghiburkan hati adiknya dengan kata-kata: “Sukakah engkau bila aku menjadi
abgmu menggantikan abgmu yang hilang itu?” Benyamin menjawab: “Tentu namun
sayang sekali bahwa engkau tidak dilahirkan oleh ayahku Ya’qub dan ibuku
Rahil.”
Mendengar kata-kata si adik yang merawankan hati itu,
bercucurlah air mata Yusuf, lalu memeluk adiknya sambil mengaku bahwa dia
adalah Yusuf, abgnya yang hilang itu. Ia menceritakan kepada adiknya
penderitaan -penderitaan yang telah dialami sejak ia dicampakkan ke dalam perigi
, diperjual-belikan sebagai hamba sahaya, ditahannya dalam penjara selama
bertahun-tahun tanpa dosa dan akhirnya berkat rahmat dan kurniaan Tuhan
diangkatlah ia sebagai wakil raja yang berkuasa mutlak. Yusuf mengakhiri
beritanya dengan berpesan kepada adiknya, agar merahsiakan apa yang telah ia
dengarkan dan jangan sampai diketahui oleh saudara-saudaranya yang lain.
Alangkah gembiranya Benyamin mendengar cerita abgnya yang
selalu dikenangnya sejak ia hilang meninggalkan rumah bersama-sama saudara-saudaranya
berkelah beberapa tahun yang lalu. Ia segera memeluk abangnya kembali seraya
berkata: “Aku tidak dapat bayangkan betapa gembiranya ayah bila ia mendengar
bahwa engkau masih hidup dalam keadaan segar bugar, sihat afiat, menguasai
suatu kerajaan besar, tinggal didalam istana yang diliputi oleh segala
kemewahan dan kemegahan. Sebab sejak engkau menghilang ayah kami tidak pernah
terlihat gembira. Ia selalu diliputi oleh rasa sedih dan duka, tidak pernah
sedikit pun bayanganmu terlepas dari ingatannya. Demikianlah keadaan ayah kami
hai Yusuf sejal engkau menghilangkan rumah dan menghilang, sampai-sampai
menjadi putih matanya karena kesedihan dan tangisnya yang tidak ada
hentinya.”
Kisah pertemuan Yusuf dengan saudaranya dikisahkan dalam
Al-Quran pada surah “Yusuf” ayat 58 sehingga 69 yang bermaksud :~
“58.~ Dan saudara-saudara Yusuf dtg {ke Mesir} lalu mrk masuk ke {tempat}nya. Maka Yusuf mengenal mrk, sedang mrk tidak kenal {lagi} kepadanya.59.~ Dan tatkala Yusuf menyiapkan bhn mknannya, ia berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu {Benyamin}, tidaklah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu? 60.~ Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi drpku dan jgn kamu mendekatiku”.61.~ Mrk berkata: “Kami akan memujuk ayah kami untuk membawanya {ke mari} dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya”.62.~ Yusuf berkata kepada bujang-bujangnya: ” Masukkanlah brg-brg {penukar kepunyaan} mrk ke dalam karung-karung mrk, spy mrk mengetahui apabila mrk telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mrk kembali lagi”.63.~ Maka tatkala mrk telah kembali kepada ayah mrk {Ya’qub}, mrk berkata: ” Wahai ayah kami, kami tidak mendpt sukatan {gandum} lagi, {jika todak membawa saudara kami}, sebab itu biarkanlah saudara kami {Benyamin} pergi bersama kami supaya kami mendpt sukatan dan sesungguhnya kami akan benar-benar menjaganya”.64.~ Berkata Ya’qub: “Bagaimana aku akan mempercayakannya {Benyamin} kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya {Yusuf} kepada kamu dahulu?” Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Mahga Penyayang di antara para penyayang.65.~ Tatkala mrk membuka brg-brgnya, mrk menemukan kembali brg-brg {penukaran} mrk dikembalikan kepada mrk. Mrk berkata: “Wahai ayah kami, apa lagi yang kami inginkan. Ini brg-brg kami dikembalikan kepada kami dan kami akan dpt memberi makan keluarga kami dan kami akan dpt memelihara ksaudra kami dan kami akan mendapat tambahan sukatan {gandum} seberat seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah {bagi Raja Mesir}”.66.~ Ya’qub berkata : “Aku sesekali tidak akan melepaskannya {pergi} bersama-sama kamu sebelum kamu memberikan janji yang teguh atas nama Allah bahwa kamu akan pasti membawanya kepadaku kembali, Kecuali jika kamu dikepung musuh “. Tatkala mrk memberi janji mrk, maka Ya’qub berkata: “Allah adalah saksi terhadap yang kami ucapkan {ini}”.67.~ Dan Ya’qub berkata: ” Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk bersama-sama dari satu pintu gerbang dan masuklah dari pintu gerbang yang berlainan namun demikian aku tidak dpt melepaskan kamu brg sedikit pun daripada {takdir} Allah. Keputusan menetapkan {sesuatu} hanyalah hak Allah; kepada-Nya aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”.68.~ Dan tatkala mrk masuk menurut yang diperintahkan ayah mrk ,maka {cara yang mrk lakukan itu} tiadalah melepaskan mrk sedikit pun daripada {takdir} Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan , karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakkan manusia tidak mengetahui.69.~ Dan tatkala mrk masuk ke {tempat} Yusuf, Yusuf membawa saudaranya {Benyamin} ke tempatnya. Yusuf berkata: “Sesungguhnya aku {ini} adalah saudaramu,maka janganlah kamu berdukacita terhadap apa yang mrk telah lakukan.”
“58.~ Dan saudara-saudara Yusuf dtg {ke Mesir} lalu mrk masuk ke {tempat}nya. Maka Yusuf mengenal mrk, sedang mrk tidak kenal {lagi} kepadanya.59.~ Dan tatkala Yusuf menyiapkan bhn mknannya, ia berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu {Benyamin}, tidaklah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu? 60.~ Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi drpku dan jgn kamu mendekatiku”.61.~ Mrk berkata: “Kami akan memujuk ayah kami untuk membawanya {ke mari} dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya”.62.~ Yusuf berkata kepada bujang-bujangnya: ” Masukkanlah brg-brg {penukar kepunyaan} mrk ke dalam karung-karung mrk, spy mrk mengetahui apabila mrk telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mrk kembali lagi”.63.~ Maka tatkala mrk telah kembali kepada ayah mrk {Ya’qub}, mrk berkata: ” Wahai ayah kami, kami tidak mendpt sukatan {gandum} lagi, {jika todak membawa saudara kami}, sebab itu biarkanlah saudara kami {Benyamin} pergi bersama kami supaya kami mendpt sukatan dan sesungguhnya kami akan benar-benar menjaganya”.64.~ Berkata Ya’qub: “Bagaimana aku akan mempercayakannya {Benyamin} kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya {Yusuf} kepada kamu dahulu?” Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Mahga Penyayang di antara para penyayang.65.~ Tatkala mrk membuka brg-brgnya, mrk menemukan kembali brg-brg {penukaran} mrk dikembalikan kepada mrk. Mrk berkata: “Wahai ayah kami, apa lagi yang kami inginkan. Ini brg-brg kami dikembalikan kepada kami dan kami akan dpt memberi makan keluarga kami dan kami akan dpt memelihara ksaudra kami dan kami akan mendapat tambahan sukatan {gandum} seberat seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah {bagi Raja Mesir}”.66.~ Ya’qub berkata : “Aku sesekali tidak akan melepaskannya {pergi} bersama-sama kamu sebelum kamu memberikan janji yang teguh atas nama Allah bahwa kamu akan pasti membawanya kepadaku kembali, Kecuali jika kamu dikepung musuh “. Tatkala mrk memberi janji mrk, maka Ya’qub berkata: “Allah adalah saksi terhadap yang kami ucapkan {ini}”.67.~ Dan Ya’qub berkata: ” Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk bersama-sama dari satu pintu gerbang dan masuklah dari pintu gerbang yang berlainan namun demikian aku tidak dpt melepaskan kamu brg sedikit pun daripada {takdir} Allah. Keputusan menetapkan {sesuatu} hanyalah hak Allah; kepada-Nya aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”.68.~ Dan tatkala mrk masuk menurut yang diperintahkan ayah mrk ,maka {cara yang mrk lakukan itu} tiadalah melepaskan mrk sedikit pun daripada {takdir} Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan , karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakkan manusia tidak mengetahui.69.~ Dan tatkala mrk masuk ke {tempat} Yusuf, Yusuf membawa saudaranya {Benyamin} ke tempatnya. Yusuf berkata: “Sesungguhnya aku {ini} adalah saudaramu,maka janganlah kamu berdukacita terhadap apa yang mrk telah lakukan.”
Yusuf menahan Benyamin
sebagai tahanan, Yusuf menerima saudara-saudaranya sebagai tamu selama tiga
hari tiga malam. Setelah selesai masa bertamu bersiap-siaplah mrk untuk pulang
kembali ke negerinya, sesudah karung-karung mrk diisi dengan penuh {gandum} dam
bhn-bhn makanan lain yang mrk perlukan.
Setelah berjabat tangan, meminta diri dari Yusuf, bergeraklah kafilah mrk menuju pintu gerbang ke luar kota. Tetapi sebelum kafilah sempat melewati batas kota, tiba-tiba beberapa pengawal istana yang berkuda mengejar mrk dan memerintah agar berhenti dan dilarang meneruskan perjalanan, sebelum diadakan pemeriksaan terhadap brg-brg mrk bawa. Para pengawal mengatakan bahwa sebuah piala gelas minum raja telah hilang dan mungkin salah seorang drp mrk yang mencurinya.
Setelah berjabat tangan, meminta diri dari Yusuf, bergeraklah kafilah mrk menuju pintu gerbang ke luar kota. Tetapi sebelum kafilah sempat melewati batas kota, tiba-tiba beberapa pengawal istana yang berkuda mengejar mrk dan memerintah agar berhenti dan dilarang meneruskan perjalanan, sebelum diadakan pemeriksaan terhadap brg-brg mrk bawa. Para pengawal mengatakan bahwa sebuah piala gelas minum raja telah hilang dan mungkin salah seorang drp mrk yang mencurinya.
Kafilah berhenti di tempat dan dengan hairan berkatalah
jurucakap mrk: “Demi Allah kami dtg kemari bukannya untuk mengacau dan sgt
tidak mungkin bahwa salah seorang drp kami akan mencuri piala itu. Kami adalah
putera-putera Ya’qub pesuruh Allah. Kami sudah merasa berhutang budi kepada
raja dan banyak berterimakasih atas bantuan yang telah diberikan kepada kami.
Masakan kami akan membalas kebaikan hati raja dengan mencuri brg-brgnya? Namun
untuk membenarkan kata-kata kami, kami tidak berkeberatan karung-karung dan
brg-brg kami dibongkar dan digeledah sepuas-puasnya. Dan bila ternyata ada
salah seorang drp kami yang kedapatan piala itu di dalam kumpulan brg-brgnya,
kami rela menyerahkannya kepada raja untuk diberi ganjaran yang setimpal.”
Penggeledahan dilakukan oleh para pengawal, brg-brg serta
karung-karung diturunkan dari atas punggung unta, dibongkar dan diperiksa.
Sejurus kemudian berteriaklah salah seorang pengawal dengan memegang piala di
tangannya seraya berkata: “Inilah dia piala yang hilang.”
Para anggota rombongan terkejut, mengangakan mulut, sambil memandang satu dengan yang lain kehairan-hairanan, seakan-akan masing-masing bertanya di dalam diri sendiri, gerangan musibah apakah yang menimpa mrk ini? sgt berat bahkan tidak mungkin, mrk akanpercaya bahwa salah seorang dari rombongan bersaudara itu melakukan perbuatan yang akan mencemarkan nama baik mrk. Namun yang mrk saksikan dengan mata kepalanya masing-masing tidak dpt dimungkiri dan ditolak kebenarannya.
Para anggota rombongan terkejut, mengangakan mulut, sambil memandang satu dengan yang lain kehairan-hairanan, seakan-akan masing-masing bertanya di dalam diri sendiri, gerangan musibah apakah yang menimpa mrk ini? sgt berat bahkan tidak mungkin, mrk akanpercaya bahwa salah seorang dari rombongan bersaudara itu melakukan perbuatan yang akan mencemarkan nama baik mrk. Namun yang mrk saksikan dengan mata kepalanya masing-masing tidak dpt dimungkiri dan ditolak kebenarannya.
Bertanya pemimpin rombongan kepada pengawal, dari mana mrk
dptkan piala itu. Mereka menujukan kepada salah satu bagasi, yang ternyata
bahwa bagasi itu adalah kepunyaan adik bongsu mrk Benyamin. MAka sesuai dengan
persetujuan yang telah disepakati, ditahanlah Benyamin dan tidak diizinkan
menyertai rombongan itu pulang.
Pada masa itu terbayanglah dihadapan mrk wajah Ya’qub ayah mrk, yang sedang buta dan mengidap penyakit karena tidak henti-hentinya mengenangkan dan mengingati Yusuf. Ayah yang dengan susah payah dan dengan rasa berat melepaskan Benyamin menyertai mrk ke Mesir karena khuatir berulangnya kembali tragedi Yusuf akan dialami oleh adik bongsunya Benyamin. Bagaimana harus mrk hadapi ayah mrk yang telah diberikan janji yang teguh atas nama Allah akan membawa Benyamin kembali? Dan apakah akan percaya ayah mrk bial diberitahu bahwa Benyamin telah ditahan di Mesir karena mencuri piala raja? Tidakkah berita itu kelak akan menjadikan penyakit ayah mrk makin parah, bahkan mungkin akan membinasakannya dan mengakhiri hayatnya?
Pada masa itu terbayanglah dihadapan mrk wajah Ya’qub ayah mrk, yang sedang buta dan mengidap penyakit karena tidak henti-hentinya mengenangkan dan mengingati Yusuf. Ayah yang dengan susah payah dan dengan rasa berat melepaskan Benyamin menyertai mrk ke Mesir karena khuatir berulangnya kembali tragedi Yusuf akan dialami oleh adik bongsunya Benyamin. Bagaimana harus mrk hadapi ayah mrk yang telah diberikan janji yang teguh atas nama Allah akan membawa Benyamin kembali? Dan apakah akan percaya ayah mrk bial diberitahu bahwa Benyamin telah ditahan di Mesir karena mencuri piala raja? Tidakkah berita itu kelak akan menjadikan penyakit ayah mrk makin parah, bahkan mungkin akan membinasakannya dan mengakhiri hayatnya?
Selagi pertanya-pertanya itu berputar di dalam fikiran
abg-abgnya, Benyamin termenung seorang diri, tidak berkata sepakat kata pun. Ia
ternganga kehairanan, bagaimana piala itu boleh didpti di dalam bagasinya.
PAdahal ia sesekali tidak merasa menyentuhnya. Ia ingin menolak tuduhan dan
menyangkal dakwaan terhadap dirinya, namun akan merasa sia-sia belaka, bahkan
akan menambah menjengkelkan para pengawak yang telah mengeluarkan piala dari
bagasinya sebagai bukti yang nyata yang tidak dpt dibantah. Ia hanya berpasrah
kepada Allah Yang Mengetahui bahwa ia bersih dari tuduhan mencuri.
Anggota rombongan ramai-ramai mendatangi Yusuf, memohon
kebijaksanaannya agar menerima salah seorang drp mrk untuk menggantikan
Benyamin sebagai tahanan. Berkata mrk: “Wahai Paduka Tuan! kami sedar bahwa
adik bongsu kami bersalah dan kami tidak dpt memungkiri kenyataan yang telah
kami saksikan dengan mata kepala kami ketika piala diketemukan di dalam bagasinya.
Akan tetapi memohon kebijaksanaan dan belas kasihan Tuan agar adik kami
Benyamin meninggalkan Mesir dan sebagai gantinya Paduka Tuan dpt menuju salah
seorang drp kami sebagai tahanan. Sebab bila rombongan kami tiba di tempat
tanpa Benyamin, hal itu akan sgt menyedihkan ayah kami, bahkan mungkin dpt
membinasakan jiwanya. Ayah kami yang sudah lanjut usia, hampir mencapai satu
abad, berada dalam keadaan sakit, sejak kehinagan putera kesayangannya Yusuf.
Adalah adik kami Benyamin ini yang menjadi penghibur hatinya yang dirundung
duka dan sedih sepanjang hayatnya. Ia bahkan tidak mengizinkan kami membawanya
kemari kalau tidak karena terpaksa telah berkurangnya persediaan gandum di
rumah. Maka sangat kami harapkan belas kasihan Paduka Tuan kepada ayah kami dengan
melepaskan Benyamin dan menahan salah seorang daripada kami sebagai gantinya.”
Yusuf menolong permohonan abg-abgnya dan berpegang teguh
pada persepakatan yang telah sama dipersetujui, bahwa brg siapa kedapatan piala
di dalam bagasinya akan ditahan, apa lagi menurut syariat Nabi Ya’qub bahwa brg
siapa yang mencuri maka hukumannya ialah si pencuri dijadikan hamba satu tahun
lamanya.
Dalam permusyawaratan yang telah dilakukan oleh abg-abg Yusuf telah gagal memperoleh persetujuannya melepaskan Benyamin dari tahanan, berkatalah Yahudza, saudara tertua di antara mrk: “Aku tidak mempunyai muka untuk mengadap ayah tanpa Benyamin. Kami telah mendurhakai ayah dengan melemparkan Yusuf ke dalam perigi sehinggakan menjadi ayah menderita sepanjang hayat dan kini akan menambahkan lagi penderitaan ayah dengan meninggalkan Benyamin seorang diri disini tanpa kami mengetahui nasib apa yang akan dialaminya sedang kami talah berjanji dan bersumpah akan membawanya kembali jika apa pun yang akan kami hadapi untuk menjaga keselamatannya. Karenanya aku akan tinggal disini buat sementara dan tidak akan pulang ke rumah sebelum ayah memanggilku dan mengizinkanku kembali. Pergilah kamu segera pulang kembali dan ceritakanlah kepada ayah apa yang telah terjadi dengan sebenarnya dan bila ayah tidak mempercayaimu, disebabkan pengalamannya dengan Yusuf, maka biarlah ia menanya kepada kafilah-kafilah dan orang -orang yang telah menyaksikan peristiwa penggeledahan dengan mata kepala mrk sendiri di tempat kami ditahan.
Dalam permusyawaratan yang telah dilakukan oleh abg-abg Yusuf telah gagal memperoleh persetujuannya melepaskan Benyamin dari tahanan, berkatalah Yahudza, saudara tertua di antara mrk: “Aku tidak mempunyai muka untuk mengadap ayah tanpa Benyamin. Kami telah mendurhakai ayah dengan melemparkan Yusuf ke dalam perigi sehinggakan menjadi ayah menderita sepanjang hayat dan kini akan menambahkan lagi penderitaan ayah dengan meninggalkan Benyamin seorang diri disini tanpa kami mengetahui nasib apa yang akan dialaminya sedang kami talah berjanji dan bersumpah akan membawanya kembali jika apa pun yang akan kami hadapi untuk menjaga keselamatannya. Karenanya aku akan tinggal disini buat sementara dan tidak akan pulang ke rumah sebelum ayah memanggilku dan mengizinkanku kembali. Pergilah kamu segera pulang kembali dan ceritakanlah kepada ayah apa yang telah terjadi dengan sebenarnya dan bila ayah tidak mempercayaimu, disebabkan pengalamannya dengan Yusuf, maka biarlah ia menanya kepada kafilah-kafilah dan orang -orang yang telah menyaksikan peristiwa penggeledahan dengan mata kepala mrk sendiri di tempat kami ditahan.
Berangkatlah kafilah Ya’qub kembali ke tanah airnya dengan
hanya terdiri dari sembilan orang, meninggalkan di belakang mrk abg sulungnya
Yahudza dan adik bongsunya Benyamin. Setiba mrk di rumah hanya dengan sembilan
orang dan menghadap ayahnya menceritakan apa yang telah terjadi pada diri
Benyamin dan Yahudza. Nabi Ya’qub berkata seraya berpaling drp mereka dan
mengusap dada: “Oh alangkah sedihnya hatiku karena hilangnya Yusuf yang masih
terbayang wajahnya di depan mataku. Kini kamu tambah lagi penderitaanku dengan
meninggalkan Benyamin di negeri orang untuk kedua kalinya kamu melanggar
janjimu dan sumpahmu sendiri dan untuk kedua kalinya aku kehilangan putera yang
sgt aku sayangi dan hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan itu.
Semoga Allah memberi kesabaran kepadaku dan mempertemukan ku kembali dengan
anak-anakku semuanya.”
Berkata putera-puteranya menjawab: “Wahai ayah! Demi Allah
engkau akan mengidap penyakit yang berat dan akan binasalah engkau bila engkau
terus menerus mengenangkan Yusuf dan tidak berusaha menghilangkan bayangannya
dari fikiranmu.”
Menjawab teguran putera-puteranya itu berucaplah Ya’qub: “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan nasibku, kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.”
Kemudian , mengenai diri Benyamin yang ditahan oleh pengawal-pengawal kerajaan, maka sepeninggalan abg-abgnya, oleh Yusuf diberitahu bahwa piala raja yang terdapat di dalam bagasinya, adalah perbuatan pengawal-pengawalnya yang memang sengaja diperintah oleh beliau untuk diisikan ke dalam bagasi Benyamin itu dengan maksud menahannya tinggal bersamanya di dalam istana. Ia membesarkan hati adiknya dengan meramalkan bahwa akan tiba kelak suatu saat di mana ia dengan adiknya dan seluruh keluarga akan bertemu dan berkumpul kembali.
Menjawab teguran putera-puteranya itu berucaplah Ya’qub: “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan nasibku, kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.”
Kemudian , mengenai diri Benyamin yang ditahan oleh pengawal-pengawal kerajaan, maka sepeninggalan abg-abgnya, oleh Yusuf diberitahu bahwa piala raja yang terdapat di dalam bagasinya, adalah perbuatan pengawal-pengawalnya yang memang sengaja diperintah oleh beliau untuk diisikan ke dalam bagasi Benyamin itu dengan maksud menahannya tinggal bersamanya di dalam istana. Ia membesarkan hati adiknya dengan meramalkan bahwa akan tiba kelak suatu saat di mana ia dengan adiknya dan seluruh keluarga akan bertemu dan berkumpul kembali.
Bacalah tentang isi cerita di atas ayat 70 sehingga 86 dari
surah “Yusuf” yang bermaksud :~
“70.~ Maka tatkala telah disiapkan untuk mrk bhn makanan
mrk, Yusuf memasukkan piala tempat minum ke dalam karung saudaranya. kemudian
berteriaklah seseorang yang menyerukan: “Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah
orang-orang yang mencuri”.71.~ Mrk menjawab sambil menghadap kepada
penyeru-penyeru itu: “Brg apakah yang hilang drp kamu?”72.~ Penyeru-penyeru itu
berkata: “Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dpt mengembalikannya akan
memperoleh bhn makanan {seberat} beban unta, dan aku menjamin terhadapnya.”73.~
Saudara-saudara Yusuf menjawab: “Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa
kami dtg bukan untuk membuat kerusakkan di negeri {ini} dan kami bukanlah orang-orang
mencuri”.74.~ Mrk berkata: “Tetapi apakah balasan jikalau kamu betul-betul
pendusta?”75.~ Mrk menjawab: “Balasannya ialah pada siapa ditemukan {brg yang
hilang} dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya”. Demikianlah kami
memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim.76.~ Maka mulailah Yusuf
memeriksa karung-karung mrk sebelum {memeriksa} karung saudaranya sendiri,
kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah
Kami atur untuk {mencapai} maksud Yusuf. Tiadalah patut Yusuf mneghukum
saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami
tinggikan darjat orang yang Kami kehendaki, dan diatas tiap-tiap orang yang
berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.77.~ Mrk berkata: “Jika ia mencuri
maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu”. Maka Yusuf
menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada
mrk. Dia berkata: “{Dalam hatinya} kamu lebih buruk kedudukanmu {sifat-sifatmu}
dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu”.78.~ Mrk berkata: “Wahai
Al-Aziz! Sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu
ambil salah seorang drp kami sebagai gantinya. Sesungguhnya kami melihat kamu
termasuk orang-orang yang berbuat baik”.79.~ Berkata Yusuf: “Aku mohon
perlindungan Allah drp menahan seorang kecuali orang yang kami ketemukan harta
benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami,
orang-orang yang zalim”.80.~ Maka tatkala mrk berputus asa drp {keputusan}
Yusuf, mrk menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang
tertua di antara mrk: “Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah
mengambil janji drp kami dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah
mensia-siakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai
ayahku mengizinkan kepadaku. Dan Dia adalah hakim sebaik-baiknya”.81.~ ”
Kembalilah kepada ayahmu dan berkatalah: ” Wahai ayah kami! Sesungguhnya anak
kamu telah mencuri dan kami hanya menyatakan apa yang kami ketahui dan sesekali
tidak dapat menjaga {mengetahui} barang yang ghaib.82~ Dan tanyalah penduduk
negeri yang kami berada di situ dan kafilah yang kami datang bersamanya dan
sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar”.83.~ Ya’qub berkata: “Hanya
dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan {yang buruk itu}. Maka
kesabaran yang baik itulah {kesabaranku}. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mrk
semua kepadaku sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana’.84.~ Dan Ya’qub berpaling dari mrk {anak-anaknya} seraya berkata:
“Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf. Dan kedua matanya menjadi putih karena
kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya {terhadap
anak-anaknya}.85.~ Mrk berkata: “Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf,
sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang
binasa”.86.~ Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadu
kesusahan dan kesedihan hatiku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu
tidak mengetahuinya”.
Pertemuan kembali keluarga
Ya’qub, Sejak kembalinya kafilah putera-puteranya dari Mesir tanpa
Benyamin dan Yahudza, maka duka nestapa dan kesedihan Ya’qub makin mendalam dan
menyayat hati. Ia tidak merasakan tidur bermalam-malam, mengenangkan ketiga puteranya
yang tidak berketentuan tenpat dan nasibnya. Ia hanya terasa terhibur bial ia
sedang menghadap kepada Allah, bersolat, bersujud seraya memohon kepada Allah
agar mengurniainya kesabaran dan keteguhan iman menghadapi ujian dan percubaan
yang sedang ia alami. Ia kadangkala berkhalwat seorang diri melepaskan air
matanya bercucuran sebebas-bebasnya untuk melegakan dadanya yang sesak.
Fizikal Nabi Ya’qub makin hari makin menjadi lemah, tubuhnya makin kurus hungga tunggal kulit melekat pada tulang, ditambah pula dengan kebutaan matanya yang menjadi putih. Hal mana menjadikan putera-puteranya khuatir terhadap kelangsungan hidupnya. Mrk menegurnya dengan mengatakan: “Wahai ayah! Ayah adalah seorang Nabi dan pesuruh Allah yang drp-Nya wahyu diturunkan dan drpnya kami mendpt tuntutan dan ajaran beriman. Sampai bilakah ayah bersedih hati dan mencucurkan air mata mengenangkan Yusuf dan Benyamin. Tidak cukupkah sudah bahwa banda ayah hanya tinggal kulit di atas tulang dan mata ayah menjadi buta? Kami sgt khuatir bahwa ayah akan menjadi binasa bila tidak menyedarkan diri dan berhenti mengenangkan Yusuf dan Benyamin”. Ya’qub menjawab teguran putera-puteranya itu mengatakan: “Kata-kata teguranmu bahkan menambahkan kesedihan hatiku dan bahkan membangkitkan kembali kenangan-kenanganku pada masa yang lalu, di mana semua anak-anak ku berkumpul di depan mataku. Aku berkeyakinan bahwa Yusuf masih hidup dan suara hatiku membisikkan kepadaku bahwa ia masih berkeliaran di atas bumi Allah ini, namun di mana ia berada dan nasib apa yang ia alami, hanya Allahlah yang mengetahuinya. Bila kamu benar-benar sayang kepadaku dan ingin melegakan hatiku serta menghilangkan rasa sedih dan dukacitaku, pergilah kamu merantau mencari jejak Yusuf dan berusahalah sampai menemuinya dan setidak-tidaknya mendapat keterangan di mana ia berada sekarang dan jangan sesekali berputus asa karena hanya orang-orang kafirlah yang berputus asa dari rahmat Allah”. Seruan Ya’qub dipertimbangkan oleh putera-puteranya dan diterimanyalah saranannya, setidak-tidaknya ia sekadar membesarkan hati si ayah dan meredakan rasa penderitaannya yang berlarut-larutan. Dan sekali pun mrk merasa tidak mungkin mendapat Yusuf dalam keadaan hidup, namun bila mrk berhasil memujuk penguasa Mesir mengembalikan Benyamin, maka hal itu sudah cukup merupakan penghibur bagi ayah mrk serta ubat yang dpt meringankan rasa sakit hatinya.
Racangan perjalanan dirundingkan dan terpilihlah Mesir sebagai tujuan pertama dari perjalanan mrk mencari jejak Yusuf sesuai dengan seruan Ya’qub dengan maksud sampingan ialah membeli gandum untuk mengisi persediaan yang sudah berkurang. Tibalah kafilah putera-putera Ya’qub di Mesir untuk ketiga kalinya dan dalam pertemuan mrk dengan Yusuf, wakil raja Mesir yang berkuasa, berkatalah jurucakap mrk: “Wahai Paduka Tuan! Keadaan hidup yang sukar dan melarat di negeri kami yang disebabkan oleh krisis bhn makanan yang belum teratasi memaksa kami dtg kembali untuk ketiga kalinya mengharapkan bantuan dan murah hati paduka tuan, kedatangan kami kali ini juga untuk mengulang permohonan kami kepada paduka tuan dptlah kiranya adik bongsu kami Benyamin dilepaskan untuk kami bawa kembali kepada ayahnya yang sudah buta kurus kering dan sakit0sakit sejak Yusuf, abang Benyamin hilang. Kami sgt mengharapkan kebijaksanaan paduka tuan agar melepaskan permohonan kami ini, kalau-kalau dengan kembalinya Benyamin kepada pangkuan ayahnya dpt meringankan penderitaan batinnya serta memulihkan kembali kesihatan badannya yang hanya tinggal kulit melekat pada tulangnya.”
Fizikal Nabi Ya’qub makin hari makin menjadi lemah, tubuhnya makin kurus hungga tunggal kulit melekat pada tulang, ditambah pula dengan kebutaan matanya yang menjadi putih. Hal mana menjadikan putera-puteranya khuatir terhadap kelangsungan hidupnya. Mrk menegurnya dengan mengatakan: “Wahai ayah! Ayah adalah seorang Nabi dan pesuruh Allah yang drp-Nya wahyu diturunkan dan drpnya kami mendpt tuntutan dan ajaran beriman. Sampai bilakah ayah bersedih hati dan mencucurkan air mata mengenangkan Yusuf dan Benyamin. Tidak cukupkah sudah bahwa banda ayah hanya tinggal kulit di atas tulang dan mata ayah menjadi buta? Kami sgt khuatir bahwa ayah akan menjadi binasa bila tidak menyedarkan diri dan berhenti mengenangkan Yusuf dan Benyamin”. Ya’qub menjawab teguran putera-puteranya itu mengatakan: “Kata-kata teguranmu bahkan menambahkan kesedihan hatiku dan bahkan membangkitkan kembali kenangan-kenanganku pada masa yang lalu, di mana semua anak-anak ku berkumpul di depan mataku. Aku berkeyakinan bahwa Yusuf masih hidup dan suara hatiku membisikkan kepadaku bahwa ia masih berkeliaran di atas bumi Allah ini, namun di mana ia berada dan nasib apa yang ia alami, hanya Allahlah yang mengetahuinya. Bila kamu benar-benar sayang kepadaku dan ingin melegakan hatiku serta menghilangkan rasa sedih dan dukacitaku, pergilah kamu merantau mencari jejak Yusuf dan berusahalah sampai menemuinya dan setidak-tidaknya mendapat keterangan di mana ia berada sekarang dan jangan sesekali berputus asa karena hanya orang-orang kafirlah yang berputus asa dari rahmat Allah”. Seruan Ya’qub dipertimbangkan oleh putera-puteranya dan diterimanyalah saranannya, setidak-tidaknya ia sekadar membesarkan hati si ayah dan meredakan rasa penderitaannya yang berlarut-larutan. Dan sekali pun mrk merasa tidak mungkin mendapat Yusuf dalam keadaan hidup, namun bila mrk berhasil memujuk penguasa Mesir mengembalikan Benyamin, maka hal itu sudah cukup merupakan penghibur bagi ayah mrk serta ubat yang dpt meringankan rasa sakit hatinya.
Racangan perjalanan dirundingkan dan terpilihlah Mesir sebagai tujuan pertama dari perjalanan mrk mencari jejak Yusuf sesuai dengan seruan Ya’qub dengan maksud sampingan ialah membeli gandum untuk mengisi persediaan yang sudah berkurang. Tibalah kafilah putera-putera Ya’qub di Mesir untuk ketiga kalinya dan dalam pertemuan mrk dengan Yusuf, wakil raja Mesir yang berkuasa, berkatalah jurucakap mrk: “Wahai Paduka Tuan! Keadaan hidup yang sukar dan melarat di negeri kami yang disebabkan oleh krisis bhn makanan yang belum teratasi memaksa kami dtg kembali untuk ketiga kalinya mengharapkan bantuan dan murah hati paduka tuan, kedatangan kami kali ini juga untuk mengulang permohonan kami kepada paduka tuan dptlah kiranya adik bongsu kami Benyamin dilepaskan untuk kami bawa kembali kepada ayahnya yang sudah buta kurus kering dan sakit0sakit sejak Yusuf, abang Benyamin hilang. Kami sgt mengharapkan kebijaksanaan paduka tuan agar melepaskan permohonan kami ini, kalau-kalau dengan kembalinya Benyamin kepada pangkuan ayahnya dpt meringankan penderitaan batinnya serta memulihkan kembali kesihatan badannya yang hanya tinggal kulit melekat pada tulangnya.”
Kata-kata yang diucapkan oleh abg-abgnya menimbulkan rasa
haru pd diri Yusuf dan tepat mengenai sasaran di lubuk hatinya, menjadikan ia
merasakan bahwa masanya telah tiba untuk mengenalkan dirinya kepada
saudara-saudaranya dan dengan demikian akan dapat mengakhiri penderitaan
ayahnya yang malang itu. Berucaplah Yusuf kepada saudara-saudaranya secara
mengejek: “Masih ingatkah kamu apa yang telah kamu lakukan terhadap adikmu
Yusuf, tatkala kamu memperturutkan hawa nafsu melemparkannya ke dalam perigi di
suatu tempat yang terpencil? Dan masih teringatkah olehmu tatkala seorang drpmu
memegang Yusuf dengan tangannya yang kuat, menanggalkan pakaiannya daritubuhnya
lalu dalam keadaan telanjang bulat ditinggalkannyalah ia seorang diri di dalam
perigi yang gelap dan kering itu, lalu tanpa menghiraukan ratap tangisnya, kamu
kembali pulang ke rumah dengan rasa puas seakan-akan kamu telah membuang sebuah
benda atau seekor binatang yang tidak patut dikasihani dan dihiraukan
nasibnya?”
Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh wakil raja Mesir
itu, tercenganglah para saudara Yusuf, bertanya-tanya kepada diri sendiri
masing-masing, seraya mamandang antara satu dengan yang lain, bagaimana
peristiwa itu sampai diketahuinya secara terperinci, padahal tidak seorang pun
drp mereka pernah membocorkan berita peristiwa itu kepada orang lain, juga
kepada Benyamin pun yang sedang berada di dalam istana raja. Kemudian
masing-masing dari mereka menyorotkan matanya, mulutmya dan seluruh tubuhnya
dari kepala sampailah ke kaki. Dicarinya ciri-ciri khas yang mrk ketahui berada
pada tubuh Yusuf semasa kecilnya. Lalu berbisik-bisiklah mrk dan sejurus
kemudian keluarlah dari mulut mereka secara serentak suara teriakan :
“Engkaulah Yusuf”.
“Benar”,Yusuf menjawab, “Akulah Yusuf dan ini adalah adikku
setunggal ayah dan ibu, Benyamin. Allah dengan rahmat-Nya telah mengakhiri
segala penderitaanku dan segala ujian berat yang telah aku alami dan dengan
rahmat-Nya pula kami telah dikurniai nikmat rezeki yang melimpah ruah dan
penghidupan yang sejahtera. Demikianlah barangsiapa yang bersabar, bertaqwa
serta bertawakkal tidaklah akan luput dari pahala dan ganjarannya.”
Setelah mendengar pengakuan Yusuf, berubahlah wajah mereka menjadi pucat. Terbayang di depan mata mrk apa yang mrk perbuat terhadap diri adik mrk Yusuf yang berada di depan mereka sebagai wakil raja Mesir yang berkuaa penuh. Mereka gelisah tidak dpt membayangkan pembalasan apa yang akan mrk terima dari Yusuf atas dosa mereka itu.
Setelah mendengar pengakuan Yusuf, berubahlah wajah mereka menjadi pucat. Terbayang di depan mata mrk apa yang mrk perbuat terhadap diri adik mrk Yusuf yang berada di depan mereka sebagai wakil raja Mesir yang berkuaa penuh. Mereka gelisah tidak dpt membayangkan pembalasan apa yang akan mrk terima dari Yusuf atas dosa mereka itu.
Berkatalah saudara-saudara Yusuf dengan nada yang rendah:
“Sesungguhnya kami telah berdosa terhadap dirimu dan bertindak kejam ketika
kami melemparkan kamu ke dasar telaga. Kami lakukan perbuatan kejam itu,
terdorong oleh hawa nafsu dan bisikan syaitan yang terkutuk. Kami sgt sesalkan
peristiwa yang terjadi itu yang berakibat penderitaan bagimu dan bagi ayah
kami.Akan tetapi kini nampak kepada kami kelebihanmu di atas diri kami dan
bagaiman Allah telah mengurniakan nikmat-Nya kepadamu sebagai ganti penderitaan
yang disebabkan oleh perbuatan kami yang durhaka terhadap dirimu. Maka terserah
kepadamu untuk tindakan pembalasan apakah yang akan engkau timpakan di atas
diri kami yang telah berdosa dan mendurhakaimu”.
Berucaplah Yusuf menenteramkan hati saudara-saudaranya yang
sedang ketakutan: “Tidak ada manfaatnya menyesalkan apa yang telah terjadi dan
menggugat kejadian-kejadian yang telah lalu. Cukuplah sudah bila itu semua
menjadi pengajaran bahwa mengikuti hawa nafsu dan suara syaitan selalu akan
membawa penderitaan dan mengakibatkan kebinasaan di dunia dan di akhirat.
Mudah-mudahan Allah mengampuni segala dosamu, karena Dialah Yang Maha Penyayang
serta Maha Pengampun. Pergilah kamu sekarang juga kembali kepada ayah dengan
membawa baju kemejaku ini. Usapkanlak ia pada kedua belah matanya yang
insya-Allh akan menjadi terang kembali, kemudian bawalah ia bersama semua
keluarga ke sini secepat mungkin.”
Maka bertolaklah kafilah putera-putera Ya’qub dengan
diliputi rasa haru bercampur gembira, kembali menuju ke Palestin membawa berita
gembira bagi ayah mereka yang sedang menanti hasil usaha pencarian Yusuf yang
disarankannya. Dan selagi kafilah sudah mendekati akhir perjalanannya dan
hampir memasuki Palestin ayah mereka Nabi Ya’qub memperoleh firasat bahwa
pertemuan dengan Yusuf, putera kesayangannya sudah berada di ambang pintu.
Firasat itu diperolehnya sewaktu ia berkhalwat seorang diri di mihrab tempat
ibadahnya bermunajat kepada Allah, berzikir dan bersujud seraya melepaskan air
matanya bercucuran dan suara tangisnya menggema di seluruh sudut rumah,
sekonyong-konyong suara tangisnya berbalik menjadi gelak ketawa, air matanya
berhenti bercucuran dan keluarlah ia dari mihrabnya berteriak: “Aku telah
mencium bau tubuh Yusuf dan aku yakin bahwa aku akan menemuinya dalam waktu
dekat. Ini bukan khayalan dan bukannya pula bawaan kelemahan ingatan yang
selalu kamu tuduhkan kepadaku.”
Sejurus kemudian berhentilah kafilah di depan pintu rumah
turunlah putera-putera Ya’qub dari atas unta masing-masing, beramai-ramai masuk
ke dalam rumah dan berpeluknyalah ayah sambil mengusapkan baju kemeja Yusuf
pada kedua belah matanya. Seketika itu pula terbuka lebarlah kedua belah mata
Ya’qub, bersinar kembali memandang wajah putera-puteranya dan mendengar kisah
perjalanan putera-puteranya dan bagaimana mrk telah menemukan Yusuf bersama
adiknya Benyamin. Disampaikan pula kepada ayah seruan dan undangan Yusuf agar
semua sekeluarga berhijrah ke Mesir dan bergabung menjadi satu di dalam
istananya. Dan segera berkemas-kemaslah Ya’qub sekeluarga menyiapkan diri untuk
berhijrah ke Mesir. Dirangkulnyalah si ayah oleh Yusuf seraya mencucurkan air
mata setiba Ya’qub di halaman istana bersama seluruh keluarga. Demikian pula
ayah tidak ketinggalan mencucurkan air mata, namun kali ini adalah air mata
suka dan gembira. Semuanya pada merebahkan diri bersujud sebagai tanda syukur
kepada Allah serta penghormatan bagi Yusuf, kemudian dinaikkannyalah ayah dan
ibu tirinya yang juga saudara ibunya ke atas sigahsana seraya berkata: “Wahai
ayahku! Inilah dia takbir mimpiku yang dahulu itu, menjadi kenyataan. Dan tidak
kurang-kurang rahmat dan kurniaan Allah kepadaku yang telah mengangkatku dari
dalam perigi, mengeluarkan aku dari penjara dan mempertemukan kami semua
setelah syaitan telah merusakkan perhubungan persaudaraan antaraku dan
saudara-saudaraku. Sesungguhnya Allah Maha Lembut terhadap apa yang Dia
kehendaki dan sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana”.Kemudian Yusuf mengangkat kedua tangannya berdoa: “Ya Tuhanku!
Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan mengajarkan
kepadaku pengentahuan serta kepandaian mentakbir mimpi. Ya Tuhanku Pencipta
langit dan bumi! Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku
dalam keadaan Islam, beriman dan bertakwa dan gabungkanlah aku dengan
orang-orang yang soleh.”
Bacalah ayat 87 sehingga 101 dari surah “Yusuf”, tentang isi
cerita di atas sebagai berikut :~
“87.~ Berkatalah Ya’qub: ” Hai anak-anakku, pergilah kamu
maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan
kamu kafir.”88.~ Maka ketika mereka masuk ke {Tempat} Yusuf, mereka berkata :
“Hai Al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang
membawa barang-barang yang tidak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk
kami dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada
orang-orang yang bersedekah.”89.~ Yusuf berkata: “Apakah kamu mengetahui
{keburukan} apa yang kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu
tidak mengetahui {akibat} perbuatanmu itu?”90.~ Mereka berkata: “Apakah kamu
ini benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku.
Sesungguhnya Allah telah melimpahkan kurnia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya
barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak
mensia-siakan pahala orang-orang yang berbuat baik”.91.~ Mereka berkata: “Demi
Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkankamu atas kami dan sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang bersalah {berdosa}”.92.~ Dia {Yusuf} berkata: “Pada
hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni {kamu}
dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”.93.~ Pergilah kamu
dengan membawa baju kemejaku ini, lalu lekatkanlah ia ke wajah ayahku, nanti ia
akan melihat kembali, dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”.94.~ Tatkala
kafilah itu telah keluar {dari negeri Mesir} berkata ayah mereka: ”
Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal
{tentu kamu membenarkan aku}”.95.~ Keluarganya berkata: “Demi Allah kamu
sesungguhnya masih dalam kekeliruanmu yang dahulu”.96.~ Tatkala telah tiba
pembawa berita gembira itu, maka diletakkannya baju itu ke wajah Ya’qub, lalu
kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu,
bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya”.97.~ Mereka
berkata: “Wahai ayah kami! Mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami,
sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah {berdosa}”.98.~ Ya’qub
berkata: “Kelak aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya
Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.99.~ Maka tatkala mereka masuk
ke {tempat } Yusuf, Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: “Masuklah kamu
di negeri Mesir, insya-Allah dalam keadaan aman”.100.~ Dan ia menaikkan kedua
ibu bapanya ke atas singahsana. Dan mereka {semuanya} merebahkan diri seraya
sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku! Inilah takbir mimpiku
yang dahulu itu, sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan
sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku
dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan
merusakkan {hubungan} antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha
Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.101.~ Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah
menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku
sebahagian takbir mimpi {ya Tuhanku} Pencipta langit dan bumi. Engkaulah
Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan
gabungkanlah aku dengan orang-orang yang soleh.” { Yusuf : 87 ~ 101 }
Tidak ada komentar:
Posting Komentar