Valentine
day bukan hari orang Islam. Seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar
pemeluk agama lain. Telah dijelaskan dalam Al- Qur'an. "Hai orang-orang
kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah
Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu
sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS. Al-Kafirun : 1- 6).
"Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi
tentang Valentine:
Versi Pertama adalah kisah
Pendeta St.Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi
Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati
St.Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya." "Claudius II
melihat St.Valentine mengajak manusia kepada agama nashrani lalu dia
memerintahkan untuk menangkapnya.
Dalam versi
kedua, Claudius II memandang para bujangan lebih tabah dan kuat dalam
berperang daripada mereka yang telah menikah yang sejak semula menolak untuk
pergi berperang. Maka dia mengeluarkan perintah yang melarang pernikahan.
Tetapi St.Valentine menentang perintah ini dan terus mengadakan pernikahan di
gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui lalu dipenjarakan.
Dalam penjara dia berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang
terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya.
Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan "Dari
yang tulus cintanya, Valentine." Hal itu terjadi setelah anak tersebut
memeluk agama nashrani bersama 46 kerabatnya."
"Versi
ketiga menyebutkan ketika agama nashrani tersebar di Eropa, di salah satu desa
terdapat sebuah tradisi Romawi yang menarik perhatian para pendeta. Dalam
tradisi itu para pemuda desa selalu berkumpul setiap pertengahan bulan
Februari. Mereka menulis nama-nama gadis desa dan meletakkannya di dalam sebuah
kotak, lalu setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak tersebut, dan
gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga
mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan "dengan nama tuhan Ibu, saya
kirimkan kepadamu kartu ini. Akibat sulitnya menghilangkan tradisi Romawi ini,
para pendeta memutuskan mengganti kalimat "dengan nama tuhan Ibu"
dengan kalimat "dengan nama Pendeta Valentine" sehingga dapat
mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nashrani.
"Maha
Tinggi Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang dzalim tersebut."
"Bahkan saat ini beredar kartu-kartu perayaan
keagamaan ini dengan gambar anak kecil dengan dua sayap terbang (Cupid) mengitari
gambar hati sambil mengarahkan anak panah ke arah hati yang sebenarnya
merupakan lambang tuhan cinta bagi orang-orang Romawi”
Berkaitan dengan perkara akidah, ibadah,
syi'ar dan kebiasaan, rasulullah SAW melarang untuk mengikuti tata cara selain
Islam: "Barang siapa meniru
suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." (HR.
At-Tirmidzi). Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali
Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir, adapun bila ia
tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnul Qayyim berkata, "Memberi
selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati
bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan
puasa mereka, dengan mengucapkan, "Selamat hari raya Natal!" dan semisalnya. Bagi yang
mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu
merupakan perbuatan haram. Berarti sama saja ia telah memberi selamat
bahkan setuju atas perbuatan mereka yang menyembah salib. Bahkan perbuatan
tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi
selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang
mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya
perbuatan tersebut.
Abu
Waqid radhiyallah 'anhu meriwayatkan: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik
orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka
menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para
sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Wahai
Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai
Dzaatu Anwaath." Maka Rasulullah n bersabda, "Maha Suci Allah, ini
seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, 'Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana
mereka mempunyai tuhan-tuhan.' Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh
kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian." (HR.
At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).
Adalah
wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk
melaksanakan wala' dan bara' (loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari
golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para salaf
shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu'min dan membenci orang-orang kafir,
memusuhi dan menyelisihi mereka. Serta mengetahui bahwa sikap seperti ini di
dalamnya terdapat kemaslahatan yang tidak terhingga, sebaliknya gaya hidup yang menyerupai
orang kafir justru mengandung kerusakan yang lebih banyak.
Di
antara dampak buruk menyerupai mereka adalah; ikut mempopulerkan ritual-ritual
mereka sehingga terhapuslah As-Sunnah. Tidak ada suatu bid'ah pun yang
dihidupkan kecuali saat itu ada suatu sunnah yang ditinggalkan. Dampak buruk
lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka,
mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap
raka'at shalatnya membaca, "Tunjukilah
kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang orang yang telah Engkau anugerahkan
nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)
mereka yang sesat." (Al-Fatihah:6-7)
Bagaimana
bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang
mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai,
namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela.
Alhamdulillah,
kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita
tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan
kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan itu
kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami .dst,
tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh
orang-orang kafir.
Semoga Allah senantiasa menjadikan hidup
kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan
untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas Langit dan bumi yang
disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita
termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan: "Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang
saling mencintai karena Aku, yang saling mengunjungi karena Aku dan yang saling
berkorban karena Aku." (Al-Hadits)
Firman Allah SWT dalam Al-Quran Surah
Al-Isra ayat 36 :
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang
kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggunganjawabannya."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar